Manfaatkan Maggot untuk Atasi Permasalahan Sampah

By Dewi Sulistiawaty - Oktober 09, 2023

 manfaat maggot untuk mengurai sampah

Jika ada yang belum mengetahui apa itu maggot, dan karena penasaran mencarinya di mesin pencari, pasti akan menemukan gambar belatung di sana. Kamu lalu akan mengernyitkan wajah, karena jijik. Yup, seperti kecoa, belatung ini masuk dalam golongan serangga menjijikkan bagi sebagian besar orang. Tak hanya karena bentuknya, namun juga karena hidupnya di tempat yang jorok, seperti tempat sampah, kotoran hewan, bangkai, dan makanan yang sudah membusuk lainnya.

Belatung ini berasal dari larva lalat hijau atau sering juga disebut lalat rumahan, karena hidupnya di lingkungan perumahan. Lalat hijau yang hinggap pada sampah atau makanan akan bertelur di atasnya. Lalu telur ini lalu akan menetas, dan berubah menjadi larva atau belatung. Belatung ini berkembang biak dengan cepat, dan bermetamorfosis menjadi kepompong. Dalam waktu 3-5 hari, kepompong ini akan berubah menjadi lalat hijau.

Lalat hijau ini tergolong hama, karena hidupnya di tempat yang kotor, sehingga ia akan membawa pathogen pada bagian tubuhnya. Saat hinggap pada makanan, pathogen ini akan mengontaminasi dan memindahkan penyakit pada makanan tersebut. Makanya serangga satu ini sangat dihindari, bahkan dimusuhi oleh manusia, karena dapat menularkan bakteri, dan menyebarkan penyakit.

Lalu bagaimana dengan maggot? Walaupun sama-sama masuk ke dalam jenis belatung, namun maggot berasal dari lalat yang berbeda. Larva maggot berasal dari lalat Black Soldier Fly (BSF), yang banyak ditemukan di Amerika Serikat, Eropa, Semanjung Iberia, Swiss, Pantai Laut Hitam Rusia, Afrika Utara dan Selatan, hingga Alam Indomalaya. Lalaf BSF memiliki antibiotik alami, sehingga tidak membawa kuman penyakit dalam tubuhnya. Walaupun sama-sama rakus seperti belatung, namun maggot umumnya hanya memakan makanan sisa-sisa organik yang membusuk.

Dari segi fisik, ukuran maggot sedikit lebih panjang dari belatung, dan berwarna gelap, bahkan menyerupai tawon. Maggot pun memiliki sistem pencernaan yang lemah, sehingga sering mengeluarkan cairan yang mengandung enzim pencernaan yang akan membantunya untuk melarutkan makanan. Namun begitu, ternyata tubuh maggot mengandung protein yang cukup tinggi, lho. Sehingga banyak yang memanfaatkan maggot sebagai bahan dasar untuk pakan ternak.

Selain itu, maggot juga memiliki kemampuan menguraikan sampah organik, dan menghasilkan pupuk kompos, karena dalam usus maggot terdapat bakteri selulotik penghasil enzim selulase, sehingga tubuhnya mampu menguraikan sampah organik tersebut. Dengan kebermanfaatan yang bisa diperoleh dari maggot ini, tak heran jika saat ini lalat BSF mulai dikembangbiakkan di Indonesia. Karena kandungan gizinya yang tinggi, masyarakat Indonesia umumnya memanfaatkan maggot sebagai bahan dasar untuk pembuatan pakan ternak, seperti unggas dan ikan.  


Maggot Pengurai Sampah

manfaat maggot untuk mengurai sampah
Maggot, si pengurai sampah organik

Seperti yang dijelaskan di atas, maggot ini merupakan larva lalat yang rakus. Dalam waktu 24 jam, ia mampu memakan sampah organik 2 hingga 5 kali bobot tubuhnya. Jadi jika dihitung-hitung, 1kg maggot, mampu menguraikan 2 hingga 5kg sampah organik tiap harinya. Tentunya maggot sangat berpotensi jika dimanfaatkan sebagai pengurai sampah. Pengembangbiakan maggot pun termasuk aktivitas yang ramah lingkungan, karena larva satu ini bukanlah sejenis hama.

Namun sayang, tak semua orang mengetahui, pun mengetahui, mau menggunakan maggot ini, dan memanfaatkannya untuk mengubah sampah organik, hingga menghasilkan pupuk kompos, yang tentu bisa digunakan juga sebagai pupuk tanaman. Padahal sampah ini bukan hanya masalah pribadi dan sekelompok orang, namun sudah menjadi masalah nasional, bahkan dunia. Selagi masih ada manusia yang beraktivitas, maka timbulan sampah akan selalu ada, dan itu akan meningkat seiring dengan semakin berkembangnya jumlah penduduk.

Dari sekian banyak solusi untuk mengatasi sampah, maka maggot dapat dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif solusi, yang bahkan berpotensi memiliki nilai ekonomi yang tinggi juga. Untuk mengembangbiakkan maggot pun terbilang mudah, karena ia bisa berkembangbiak secara alami di alam. Kita tinggal menyiapkan media bersih yang mengandung fermentasi, karena aroma ini disukai oleh lalat BSF.

Dalam sekali bertelur, satu indukan lalat BSF mampu menghasilkan 400 hingga 800 telur. Nanti tinggal menunggu telur-telur ini menetas hingga menjadi maggot. Jika sudah berubah jadi maggot, barulah diberikan sampah-sampah organik sebagai makanannya. Sampah-sampah ini akan dimakan dan diuraikan maggot jadi kompos. Beberapa hari kemudian maggot pun akan berubah menjadi lalat BSF, dan siklusnya akan berputar terus seperti itu.

Arky Gilang Wahab budidayakan maggot
Arky Gilang Wahab budidayakan maggot untuk mengatasi masalah sampah di desanya

Adalah Arky Gilang Wahab, seorang pemuda kelahiran Banyumas, Jawa Tengah yang kemudian tertarik untuk membudidayakan maggot. Ketertarikannya membudidayakan maggot muncul saat ia pulang ke kampung halamannya, setelah menyelesaikan studinya di Teknik Geodesi Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 2018. Sesampainya di desa, ia pun mendapati bahwa Banyumas ternyata sedang dilanda krisis sampah saat itu.

Mengerti bahwa maggot bisa dimanfaatkan untuk mengatasi masalah sampah di daerahnya, Arky pun mulai membudidayakan maggot. Tentu saja idenya ini tak ujug-ujug terlaksana dengan mulus begitu saja. Awalnya usaha budidaya maggot ia rintis bersama dengan adik dan salah seorang temannya. Mereka memulai usaha tersebut dari rumah masing-masing. Lambat laun usaha mereka pun mendapat perhatian dari warga sekitar. Banyak dari mereka yang mulai ikut mengumpulkan sampah organik juga. Dalam kurun waktu satu tahun, Arky mampu mengelola seluruh sampah organik yang ada di desanya, Desa Banjaranyar.

Arky budidayakan maggot untuk menguraikan sampah

Arky manfaatkan maggot untuk menguraikan sampah

Arky manfaatkan maggot untuk menguraikan sampah

Seiring waktu, maggot yang mereka budidayakan terus berkembang. Tentunya sampah organik yang bisa diolah pun kian meningkat. Aktivitas mereka pun kemudian mendapat perhatian dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banyumas. Hingga tahun 2020, mereka sudah mampu mengelola sampah organik hingga 3 truk atau sekitar 5-6 ton, yang diperoleh dari DLH Banyumas.

Usaha Arky terus berkembang. Banyak yang mengajaknya bekerja sama dan bermitra untuk menangani sampah. Mulai dari daerah-daerah yang ada di sekitar Sokaraja, hingga luar Banyumas, seperti Salatiga, Semarang, Pekalongan, hingga Bali. Dikutip dari mongabay.co.id, kerja sama terbaru Arky, yang sekarang sudah membawa nama Greenprosa, yaitu perusahaan limbah dan bioteknologi yang berpusat di Desa Banjaranyar, Kecamatan Sokaraja, adalah dengan Taman Safari Indonesia (TSI) Bogor, karena di TSI sendiri memiliki banyak sampah organik. Menurut Arky, TSI Bogor ini nantinya akan akan menjadi percontohan bagi TSI lainnya.

Arky Greenprosa bekerjasama dengan TSI

Arky Greenprosa bekerjasama dengan TSI
Arky melalui Greenprosa bekerja sama dengan TSI untuk mengelola sampah organik

Sampai saat ini, Greenprosa sendiri mampu mengelola sekitar 40 ton sampah organik, dan jika ditotal dengan mitra mereka yang saat ini jumlahnya lebih dari 2.500 orang, maka total sampah organik yang mampu diolah mencapai 60 ton per harinya. Masalah sampah organik yang menguarkan bau pun bisa ditangani secara cepat oleh para maggot ini. Lalu pupuk yang dihasilkan bisa dimanfaatkan oleh para petani, dan maggotnya sendiri bisa dijadikan bahan dasar pakan ternak. Semuanya bermanfaat.

Maggot untuk pakan ternak

Manfaat maggot

Ketika menjelajah ke website Greenprosa.co.id, ternyata usaha budidaya maggot ini tak saja bermanfaat untuk mengatasi masalah sampah secara berkelanjutan, menjadi solusi paling efektif dan ramah lingkungan, serta berdampak secara ekonomi, namun juga bermanfaat dalam pemberdayaan masyarakat, khususnya pengelola sampah, peternak, dan para petani. Sesuai dengan slogan Greenprosa, yaitu “Sustainable Protein, Sustainable Environment”, sebuah konsep sirkular ekonomi untuk menciptakan Industri Hijau Berkelanjutan, berbasis pemberdayaan masyarakat di Indonesia.  


Dari Maggot dan Sampah Menjadi Berkah

Siapa sangka usaha budidaya maggot yang dilakukan Arky, yang awalnya hanya berniat untuk mengatasi masalah sampah di kampungnya berbuah manis. Segala kebermanfaatan yang diperoleh dari budidaya maggot tersebut mendapatkan apresiasi dari Grup Astra melalui SATU Indonesia Awards. Nama Arky Gilang Wahab tertera sebagai penerima Apresiasi 12th SATU Indonesia Awards 2021 untuk Kategori Umum di Bidang Lingkungan, sebagai Penggerak Program Sistem Konversi Limbah Organik untuk Ciptakan Ketahanan Pangan.

Arky Gilang Wahab SATU Indonesia Awards 2021

Bangga tentu saja. Selain bisa bermanfaat untuk lingkungan dan masyarakat, juga karena mendapatkan apresiasi dari ajang bergengsi yang digelar oleh Astra sejak tahun 2010 tersebut. SATU Indonesia Awards diselenggarakan sebagai bentuk apresiasi Astra kepada anak bangsa yang telah berkontribusi dalam mendukung terciptanya kehidupan berkelanjutan, baik di bidang Kesehatan, Pendidikan, Lingkungan, Kewirausahaan, dan Teknologi, serta satu kategori kelompok yang mewakili kelima bidang tersebut.

Semangat Arky untuk mengatasi permasalahan sampah di desanya sesuai dengan Semangat Astra Terpadu Untuk Indonesia atau SATU Indonesia, yang menjadi langkah nyata Grup Astra untuk berperan aktif, serta memberikan kontribusi dalam meningkatkan kualitas masyarakat Indonesia melalui karsa, cipta, dan karya terpadu dalam produk dan layanan karya anak bangsa, Insan Astra yang unggul, serta kontribusi sosial yang berkelanjutan untuk memberikan nilai tambah bagi kemajuan bangsa Indonesia.

Tahun ini Astra kembali mengajak anak bangsa untuk berkontribusi dan berperan aktif demi keberlangsungan masa depan bangsa, dengan menggelar Apresiasi 14th SATU Indonesia Awards 2023, dengan mengusung tema “Semangat Untuk Hari Ini dan Masa Depan Indonesia”. Saya yakin masih banyak Arky-Arky lainnya di luar sana, yang juga pantas mendapatkan apresiasi dari Astra. Yuk, semangat! “Terus Melaju Untuk Indonesia Maju”.

  

Referensi:

Sumber data dan foto: E-Booklet Penerima Apresiasi SATU Indonesia Awards 2023, gramedia.com, radioidola.com, mongabay.co.id, greenprosa.co.id, dan akun Instagram @arkygilang dan @greenprosa.           

  • Share:

You Might Also Like

0 comments