Selasa, 15 Agustus 2017

Prospek Benih Sawit Indonesia

Sawit Indonesia sebenarnya memiliki prospek yang sangat besar di dunia perindustrian. Namun dalam perjalanannya, banyak tantangan yang menyebabkan sawit Indonesia menjadi kurang berkembang. Padahal Indonesia merupakan penghasil sawit terbesar di dunia, yaitu sekitar 37 juta ton CPO. Ini membuat kelapa sawit menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar bagi Indonesia. Untuk itulah kita perlu menjaga keberadaan kelapa sawit ini.

Menanggapi lebih jauh mengenai prospek sawit di Indonesia, Media Perkebunan menyelenggarakan sebuah diskusi nasional pada hari Kamis, 10 Agustus 2017 di Menara 165 Convention Center, Jakarta. Selain diskusi yang bertemakan “Prospek Benih Sawit 2018”, pada acara ini juga diluncurkan sebuah buku karya Bapak Razak Purba yang berjudul “I’m Proud To Be an Oil Palm Breeder”.


Dalam sambutannya sebagai Pemimpin Umum Media Perkebunan, Bapak Ir. Gamal Nasir, MS mengatakan bahwa kita patut bersyukur, karena Indonesia ini selain merupakan produsen kelapa sawit terbesar di dunia, juga memiliki produsen benih sawit terbesar di dunia. Ada 15 produsen benih sawit, yang mana pada tahun 2016 lalu bisa menyalurkan sekitar 270 juta butir benih sawit.

Bapak Gamal
“Kelapa sawit ini perlu kita jaga, karena semakin tua kelapa sawit ini maka akan semakin turun produksinya, sehingga kita akan kehilangan ‘rupiah’ kita. Untuk itu kita butuh peremajaan kelapa sawit. Di UU No.39 Tahun 2014 tentang Perkebunan, disebutkan juga mengenai peremajaan kelapa sawit ini,” ujar Bapak Gamal.

Acara kemudian dilanjutkan dengan pendeklarasian Perkumpulan Penangkar Benih Tanaman Perkebunan Indonesia (PPBTPI), yang selanjutnya dikukuhkan oleh Bapak Direktur Jenderal Perkebunan, yaitu Bapak Ir. Bambang, MM. PPBTPI merupakan organisasi resmi yang mewadahi penangkar benih perkebunan di seluruh Indonesia. Organisasi yang berpusat di Jakarta ini berdiri dengan inisiasi dari para penangkar benih, dan telah terdaftar di Kementerian Hukum dan HAM. Sampai saat ini PPBTPI sudah beranggotakan sekitar 110 orang, dan ini akan terus bertumbuh seiring dengan pembentukan badan pengurus di daerah.

Pengukuhan PPBTPI oleh Dirjen Perkebunan
Keberadaan PPBTPI adalah memberikan dukungan pada pemerintah, untuk memajukan perbenihan nasional, menjamin ketersediaan benih, dalam kaitan program pengembangan perkebunan serta memberikan masukan yang konstruktif terhadap kebijakan perbenihan nasional. Sebagian besar penangkar benih adalah pelaku usaha menengah dan kecil yang berani mengambil bagian penyediaan bahan tanaman yang paling pokok, yaitu pembesaran benih. Agar bisa tetap eksis di tengah persaingan yang ketat dan penuh risiko, maka melalui perkumpulan ini, para penangkar bisa saling berjejaring dan membangun usaha, sehingga mereka bisa tumbuh bersama.

Saat meresmikan dibukanya kegiatan diskusi nasional ini, Direktur Jenderal Perkebunan, Bapak Bambang mengatakan bahwa kelapa sawit memiliki potensi yang besar, dan sangat penting bagi Indonesia. Saat ini kelapa sawit sedang dihadapi dengan berbagai tantangan. Indonesia memiliki sekitar 14 juta hektar lahan kebun sawit. Dari 14 juta hektar tersebut, 11,9 juta hektar-nya mempunyai izin dan terdata di Direktorat Perkebunan, sedangkan sisanya belum memiliki izin dari pemerintah.

Dirjen Perkebunan
Nah, dari 11,9 juta hektar lahan sawit, 4,7 juta hektar-nya sedang menghadapi masalah yang bersinggungan dengan kawasan, begitupun dengan lahan-lahan perkebunan milik swasta. “Dalam kondisi tantangan yang cukup berat bagi industri kelapa sawit Indonesia, pemerintah telah berusaha sekuat tenaga, yang tentunya berharap dukungan dari semua pihak, untuk menjadikan kelapa sawit sebuah kebanggaan bagi Indonesia,” jelas Bapak Bambang.

Kelapa sawit ini adalah komoditas yang wajib hukumnya terintegrasi antara petani dengan industrinya. Seharusnya tidak ada petani perkebunan kelapa sawit di Indonesia, yang mengusahakan kelapa sawit tanpa ada kepastian dengan siapa ia terintegrasi untuk mengolah produknya. Menurut UU ada 3 komoditas yang harus terintegrasi antara petani dan industrinya, yaitu kelapa sawit, teh, dan tebu, sehingga ketiga komoditas ini harus diatur secara khusus.  

Kita harus bangga, bahwa kelapa sawit adalah bagian penting dalam perekonomian Indonesia. Kita juga sadar bahwa dalam perjalanan membesarkan sawit Indonesia, banyak tantangan yang harus dihadapi. Atas kesadaran ini, tentunya semua pihak mau bergandengan tangan, bahu membahu, dan bersatu untuk membangun dan memperkuat kelapa sawit Indonesia, mulai dari benih sampai dengan pemasarannya. Jika kita semua sadar akan hal ini, maka tidak ada lagi yang akan mencederai pertumbuhan dan perkembangan keberadaan sawit Indonesia. Kita harus bangga dan lindungi sawit untuk kejayaan negara kita.

Usai diresmikan oleh Direktur Jenderal Perkebunan, acara diskusi nasional pun dimulai, dimoderatori oleh Ibu Ir. Hindarwati Sudjatmiko, M.Sc, dengan narasumber Ibu Ir. Irmijati Rachmi Nurbahar, M.Sc selaku Direktur Tanaman Tahunan dan Penyegar, Ditjen Perkebunan, Bapak Ir. Ferry HC Ernaputra, M.Si sebagai Kepala Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura, dan Perkebunan Provinsi Riau, serta Bapak Rusbandi selaku Sekjen PPBTPI.

Diskusi Nasional "Prospek Benih Sawit 2018"
Selain sebagai sumber devisa, kelapa sawit juga berperan sebagai bahan pangan, sumber baku energi nabati, pengembangan wilayah, serta penyedia lapangan kerja. Itulah sebabnya mengapa kita harus melindungi dan menjaga kelapa sawit ini agar bisa terus berkelanjutan, walaupun dalam perjalanannya banyak tantangan yang dihadapi, mulai dari isu lingkungan, kesehatan, dan isu lainnya yang berhembus diluaran sana.

Saat ini dengan luas lahan kelapa sawit 11,9 juta hektar, dapat diproduksi sekitar 3,2 juta ton, dengan produktivitas rata-ratanya 3,7 ton/ hektar per tahun. Dilihat dari luasan dan produktivitasnya, produktivitas dari perkebunan rakyat masih relatif rendah. Ini mungkin karena faktor penggunaan bahan pangan, sehingga hasilnya masih jauh dari potensi.

Dengan kondisi perkebunan swadaya ini memang cukup kompleks untuk dipersiapkan, baik oleh dinas perkebunan kabupaten, provinsi, serta ditjenbun, sebagaimana tertuang di dalam UU untuk peremajaan ini, mulai dari administrasi, kemitraan, dan sebagainya. Menjadi tugas bersama dari kabupaten, provinsi, dan ditjenbun untuk mengawal terutama perkebunan swadaya ini. Jadi akan dipilih petani sawit yang siap dan memenuhi pra syarat untuk peremajaan tahun 2017 ini. Sedangkan bagi yang kurang siap atau belum memenuhi syarat, akan didorong agar bisa segera menyiapkan untuk peremajaan tahun 2018 dan 2019.

“Di tahun 2017 ini sudah ada alokasi dana untuk peremajaan seluas 20.780 hektar. Kita coba memetakan bagaimana persiapan dari sisi perbenihan. Sebenarnya dari kami sumber benih untuk kelapa sawit sudah ada dari 15 perusahaan. Berdasarkan hasil rapat kordinasi produsen kelapa sawit yang dilaksanakan pada 13 Februari 2017 di Ditjen Perkebunan, memang sudah terpetakan bahwa potensi produksi dari seluruh produsen sumber benih bisa sampai 270,5 juta butir. Sehingga rencana produksinya ada 118,8 juta butir. Sementara terkait kendala lahan yang bersinggungan dengan wilayah kehutanan, akan kita coba cari solusinya dengan Kementerian LHK,” jelas Ibu Irmijati.

Dalam paparannya Ibu Irmijati belum bisa menjelaskan berapa besar alokasi dana BPDP untuk peremajaan sawit, karena masih dalam kanal usulan, dan masih berproses untuk tahun 2018. Namun Ibu Irmijati mengatakan bahwa mereka mengusulkan lahan seluas 100 ribu hektar untuk dilakukan peremajaan. Mereka berharap besaran alokasi untuk peremajaan ini juga akan bertambah dari alokasi yang sebelumnya, sehingga areanya bisa lebih luas lagi nantinya.

Sementara Bapak Ferry dari Dinas Perkebunan Provinsi Riau mengatakan bahwa kondisi kelapa sawit di Riau tidak lepas dari perjuangan teman-teman di ditjenbun, yaitu sejak tahun 80-an. Hingga saat ini luas lahan sawit di Riau sudah mencapai kurang lebih 24 juta hektar. Pengusaha perkebunan di Riau terdiri dari perkebunan rakyat, perkebunan besar, dan perkebunan besar negara. Yang memprihatinkan adalah masih banyak perkebunan rakyat yang belum memiliki dokumen.

Sampai tahun 2017 ini, kurang lebih 96.852 hektar lahan sudah dilakukan peremajaan di Riau. Sekitar 46 ribu hektar lebih tanaman sawit ada yang sudah rusak, sehingga perlu segera diupayakan peremajaan agar bisa berproduksi lagi sesuai dengan standar. Perkebunan rakyat merupakan perkebunan yang terluas di Riau, yaitu mencapai 56% atau lebih dari 1,3 juta hektar. Namun dibandingkan perkebunan rakyat, perkebunan swasta malah memiliki produktivitas yang paling besar. Ini menunjukkan bahwa produktivitas perkebunan rakyat yang masih rendah di Riau.

Jumlah petani di Riau yang menggantungkan mata pencahariannya dari sawit lebih dari 1 juta orang. Sementara penyuluh dari dinas perkebunan di Riau sepertinya sangat kurang. Ini harus diperjuangkan dan memerlukan uluran tangan dari pemerintah, khususnya dari Ditjenbun agar para petani bisa berkembang dan memiliki produktivitas yang tinggi.


Bedah Buku ‘I’m Proud To Be an Oil Palm Breeder’ Karya Bapak Razak Purba

Bedah Buku karya Bapak Razak
Buku ‘I’m Proud To Be an Oil Palm Breeeder ditulis Bapak Razak berdasarkan pengalamannya selama berkecimpung di bidang tanaman sawit. Buku setebal 113 halaman ini mengulas perjalanan panjang beliau sebagai pemulia kelapa sawit di Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS). Banyak sudah hasil penelitian yang sudah beliau publikasikan di jurnal dalam dan juga luar negeri.

Bapak Razak
Dalam buku ini, Bapak Razak menuliskan ceritanya secara lugas dan mudah dimengerti oleh orang awam, dengan diselingi gambar-gambar sehingga membuat isinya menjadi lebih menarik lagi. Diawali dengan pertanyaan “Siapakah Pemulia Itu?” lalu lanjut ke saat Bapak Razak memilih untuk menjadi seorang pemulia, yang dianggap orang bahwa itu adalah pekerjaan yang membosankan. Klimaks dari cerita ini adalah saat Bapak Razak menceritakan bahwa dirinya menjadi bagian dari sejarah, dan saat bereksplorasi ke berbagai tempat di dunia. Tulisannya ditutup dengan impian dan harapan beliau terhadap potensi tanaman kelapa sawit di Indonesia.  

Melalui buku ini, Bapak Razak mengatakan bahwa pemulia tanaman merupakan tugas yang mulia dan membanggakan. Seperti yang disampaikan oleh Ibu Hindarwati yang mengatakan bahwa dengan adanya buku ini, maka beliau bersama rekan-rekannya bisa menyebarkan buku yang berisikan informasi penting mengenai sawit ini ke berbagai tempat, misalnya ke kampus-kampus.

Salah dua kutipan menarik yang saya ambil dari Buku ‘I’m Proud To Be an Oil Palm Breeder’ adalah :
“Pemuliaan itu adalah seni dan untuk melakukan tindakan yang sifatnya artistik membutuhkan sebuah sense dan insting yang tidak sepenuhnya terbentuk oleh bakat, melainkan pengalaman. Agar Indonesia menjadi terdepan untuk kelapa sawit, kita perlu membangun industri benih kita sehinga menjadi yang terbaik di dunia”.



Foto-foto : Pribadi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar