Cara Mencegah Risiko Penularan Infeksi Kuman Lewat Udara

By Dewi Sulistiawaty - Oktober 28, 2022

 cara cegah infeksi nosokomial

Sebenarnya saya termasuk orang yang nggak begitu suka datang ke faskes atau fasilitas layanan kesehatan, seperti klinik atau rumah sakit, kalau bukan karena terpaksa banget. Bukannya apa-apa, suka malas aja mesti menunggu dalam ruangan, yang saya sendiri nggak tahu apakah ruangan tersebut bersih dan bebas dari kuman. Mengingat banyak orang dengan beragam penyakit datang untuk berobat ke fasilitas kesehatan. Bukannya sok bersih atau gimana-gimana. Bagi saya, kesehatan is numero uno! Kalau sampai sakit, mesti siap-siap menderita, keluar biaya, ngerepotin orang terdekat, pokoknya ribet urusannya, Bestiee! Jadi mending mencegah dari pada mengobati.

Nah, itu jauh sebelum pandemi ya. Sejak pandemi malah saya jadi lebih malas lagi ke faskes. Sebisa mungkin jika sakit, saya obati dengan cara tradisional. Pokoknya,  menghindari banget yang namanya rumah sakit. Jangan kan fasilitas kesehatan, di tempat umum seperti pasar atau mal aja saya takut. Segitu parnonya saya dengan kuman penyakit, apalagi Covid-19, yang sangat cepat proses penularannya, karena penyebarannya terjadi lewat udara.

Bagaimana dengan fasilitas kesehatan yang ruangannya kebanyakan tertutup? Ditambah yang datang ke sana adalah orang dengan beragam penyakit, yang kita nggak tahu apakah itu menular atau nggak. Saya pikir pakai masker aja nggak cukup, karena masih ada anggota tubuh yang lain, seperti telapak tangan, dan juga pakaian yang kita kenakan, yang bisa ditempeli oleh kuman. Hiiii...

Sepertinya bukan saya saja yang berpikir begini. Buktinya beberapa waktu lalu, tepatnya saat kasus pandemi masih tinggi, hadir sebuah teknologi yang disebut dengan teknologi sinar UV-C, yang berfungsi sebagai disinfektan. Salah satu perusahaan pencahayaan ternama dunia yang saya kenal, yaitu Signify (sebelumnya bernama Philips Lighting) mulai memperkenalkan rangkaian produk UV-C ini di Indonesia beberapa tahun lalu.

Beragam jenis dan ukuran produk UV-C yang dihadirkan oleh Signify. Mulai dari yang ukurannya kecil hingga besar, berbentuk persegi hingga tabung, serta yang ditempel di dinding hingga ditaruh di lantai. Produk ini ada yang khusus digunakan untuk profesional dan ada juga yang untuk skala rumah tangga. Berarti bisa dipasang di fasilitas-fasilitas kesehatan dong ya. Eh btw, sinar UV-C ini aman nggak sih? Bukannya nggak baik jika mengenai manusia?


Teknologi Sinar UV-C di Fasilitas Kesehatan untuk Cegah Risiko HAIs

HAIs? Apa itu? Baru dengar. Saya sendiri baru mendapatkan informasi mengenai HAIs ini saat menghadiri acara Signify Thought Leadership Forum pada hari Selasa, 25 Oktober 2022 yang diselenggarakan di The Terrace, Jakarta. Fyi,  acara ini merupakan forum diskusi yang diselenggarakan Signify Indonesia, untuk membahas topik-topik terkait pencahayaan, serta potensi pencahayaan yang luar biasa dalam mewujudkan kehidupan yang lebih cerah dan dunia yang lebih baik.

cara cegah infeksi nosokomial
Signify Thought Leadership Forum
(Kiri-kanan: Ibu Lea, Bpk Wibawa, dr. Rini, dr. Jaka, Meisya)

Hadir dalam forum diskusi ini, Bpk Wibawa Jati Kusuma selaku Chief Commercial Operations Signify Indonesia; dr. Cahyarini Dwiatmo, Sp. MK(K) yang merupakan perwakilan dari PERDALIN Pusat/ Indonesian Society of Infection Control (INASIC); dr. Jaka Pradita, Sp.P sebagai Dokter Spesialis Pulmonologi; Meisya Siregar, seorang public figure dengan 3 orang anak, serta Ibu Lea Kartika Indra selaku Head of Public & Government Affairs Signify Indonesia.

Fyi, HAIs atau Healthcare Associated Infections merupakan suatu infeksi yang berkembang di lingkungan rumah sakit. Dalam studi yang dilakukan oleh WHO, HAIs terjadi sebanyak 10% di wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Tuh kan, ini yang sejak dulu saya takutkan. Ditambah lagi pandemi Covid-19, yang penularannya bisa terjadi lewat udara.

Dalam penjelasannya, dr. Cahyanirini atau yang akrab disapa dr. Rini mengatakan bahwa selain Covid-19, ada beberapa jenis penyakit lain yang penularannya juga melalui udara, diantaranya tuberkulosi, influenza, measles/ campak, mumps/ gondongan, varicella/ cacar air, serta SARS, dan MERS. Mekanisme penularannya adalah melalui droplet yang keluar dari penderita. Kuman yang ukurannya besar, yaitu lebih dari 5 mikron, maka akan langsung jatuh ke bawah ke permukaan benda. Sedangkan kuman yang ukurannya kurang dari 5 mikron, maka kuman tersebut akan melayang-layang di udara. Jika ada angin di area tersebut, maka kuman itu akan terbawa arah angin, dan di saat ada orang lain yang melintas di arah angin tersebut, maka orang tersebut bisa berisiko tertular kuman tersebut.

Lebih lanjut dr. Rini menyampaikan bagaimana cara pencegahan dan pengendalian terhadap penyebaran penyakit yang ditularkan melalui udara.


Cara Pencegahan dan Pengendalian Penyebaran Penyakit yang Ditularkan Melalui Udara

cara cegah infeksi nosokomial

Untuk Pasien/ Sumber

·   Isolasi

Jika menderita sakit, dan berisiko menular, maka sebaiknya lakukan isolasi agar jangan sampai menularkannya pada orang lain. Itu juga berlaku bagi anggota keluarga yang tinggal serumah dengan penderita, yang bahkan lebih berisiko untuk tertular karena berada di dalam ruangan yang sama.

·     Treatment

Lakukan perawatan dan pengobatan yang tepat agar bisa segera sembuh dari penyakit tersebut.

·     Gunakan Masker

Gunakan masker untuk mencegah kuman keluar dan menyebar di udara, sehingga tidak menular pada orang lain.

·     Etika Batuk yang Baik

Batuk pun ada etikanya lho! Pernah lihat seseorang batuk tanpa menutup mulutnya? Batuk tepat di depan orang lain? Atau saat batuk maskernya malah dibuka? Itu bukan etika batuk yang baik. Menurut dr. Rini, masker gunanya untuk mencegah kuman menyebar keluar. Jadi kalau batuk jangan dibuka maskernya. Gunakan tisu atau lengan bagian dalam untuk menutupi mulut saat batuk. Jangan pernah menggunakan telapak tangan atau permukaan tangan bagian luar untuk menutup mulut, karena bagian ini sering bersentuhan dengan orang lain, seperti salaman, atau bersinggungan di jalan, sehingga orang lain bisa berisiko terpapar penyakit.

Jika menggunakan telapak tangan atau tisu, segeralah buang tisu tersebut ke tempat sampah. Lalu jangan lupa cuci tangan. Terapkan prinsip 6 langkah cuci tangan yang benar dan higienis. Hindari menyentuh wajah jika tangan belum dicuci.

Untuk Media Udara    

·      Ventilasi

Untuk di dalam ruangan, pastikan terdapat lubang ventilasi yang terpasang dengan baik dan tepat. Pastikan udara yang masuk bersih, bukan ventilasi yang menghadap ke jalan raya yang banyak debu dan asap knalpot. Prinsipnya masukkan udara bersih sebanyak-banyaknya ke dalam ruangan, dan udara kotor dibuang keluar. Jendela dan pintu termasuk ventilasi tidak tetap. Menurut dr. Rini, aliran udara yang baik adalah model cross ventilation, dengan udara bersih mengalir dari atas, masuk ke ruangan, lalu udara kotor di dalam ruangan mengalir keluar.

·     Penyaringan Udara

Cara pencegahan dan pengendalian lainnya adalah dengan melakukan penyaringan udara terlebih dulu sebelum dikeluarkan melalui ventilasi. Bisa dengan cara menggunakan air purifier yang dilengkapi dengan filter HEPA.

·     Radiasi Kuman UV

Cara lain adalah dengan melakukan disinfeksi udara menggunakan sinar UV dari matahari. Saat udara bersih masuk, dan udara kotor keluar, maka kuman yang ada pada udara kotor tersebut akan dimusnahkan oleh sinar UV dari matahari. Untuk itu dianjurkan membuat ventilasi, jendela, atau pintu yang dapat dimasuki oleh sinar matahari, agar sinar UV dapat memusnahkan kuman yang ada di dalam ruangan.

Untuk Orang yang Berisiko Tertular

·     Jaga Jarak

Di masa pandemi, kita dianjurkan untuk jaga jarak untuk mencegah risiko tertular virus corona. Peraturan ini juga berlaku untuk penyakit lain yang penyebarannya juga terjadi melalui udara. Untuk itu, sebaiknya jaga jarak atau hindari kontak erat dengan pasien atau orang yang menunjukkan gejala menderita penyakit tersebut. Jaga jarak tidak sama atau bukan berarti mengucilkan orang tersebut ya. Bedakan!

·     Gunakan APD

Penggunaan APD atau Alat Pelindung Diri inilah yang selalu digencarkan pemerintah dan tenaga kesehatan sejak pandemi Covid-19 melanda, seperti penggunaan masker, face shield, atau APD lengkap bagi tenaga medis untuk mencegah agar jangan sampai terpapar virus atau kuman penyakit. Lalu jangan lupa juga untuk selalu mencuci tangan (gunakan prinsip 6 langkah cuci tangan) usai kontak langsung dengan orang lain, atau setelah beraktivitas di luar ruangan.   


Teknologi UV-C Signify

Dengan pengalaman selama lebih dari 40 tahun di bidang pencahayaan, Signify menghadirkan produk dengan teknologi UV-C Air Disinfection yang mampu mendisfeksi udara di dalam ruangan dengan cepat dan aman. Dari segi keamanan, untuk pemasangan dan penggunaan produk ini dipastikan harus mengikuti prosedur dan standar yang sudah ditetapkan, seperti ketinggian pemasangan luminer, pelindung dan optik pada luminer dirancang untuk mencegah paparan langsung sinar UV-C, serta produk UV-C Signify sudah melalui uji laboratorium, serta bersertifikasi bebas ozon, bebas kebocoran UV-C, dan telah mengikuti standar keselamatan.

Philips UV-C Disinfection Upper Air

Sinar UV Sebagai Disinfektan

Fyi, sinar UV yang dipancarkan matahari ke bumi terdiri dari 3 jenis, yaitu UV-A, UV-B, dan UV-C. Makin pendek gelombang yang dimiliki sinar UV tersebut, maka akan makin berbahaya untuk kesehatan. Sinar UV-C merupakan sinar UV dengan gelombang paling pendek diantara ketiganya. Namun karena gelombangnya yang pendek, sinar UV-C tidak sampai menembus lapisan ozon, sehingga tidak dapat mencapai permukaan bumi. Jika manusia terkena radiasi UV-C, maka dapat menyebabkan sunburn, bahkan kanker kulit.

Walau tak dipungkiri, meski berbahaya, kita membutuhkan sinar UV untuk kehidupan. Bahkan sinar UV-A dan UV-B yang sampai ke bumi, jika dimanfaatkan secara wajar dan tidak berlebihan, akan bermanfaat untuk kesehatan, diantaranya untuk merangsang produksi vitamin D dalam tubuh, dan meningkatkan kekebalan tubuh. Sedangkan sinar UV-C dapat dimanfaatkan untuk membunuh kuman, seperti bakteri, virus, dan jamur. Namun ingat, dalam penggunaannya, jangan sampai kita terpapar sinar UV-C, karena sangat berbahaya untuk kesehatan.

Nah, pemanfaatan UV-C ini juga dapat diterapkan dalam lingkungan fasilitas kesehatan, tempat dimana paling banyak beredarnya berbagai macam kuman penyakit, sehingga lebih berisiko terpapar HAIs. Namun karena UV-C ini berbahaya jika terkena manusia, maka dalam pemasangan produk UV-C harus memenuhi aturan dan perhatian khusus. Misalnya aturan pemasangan di atas 2 meter untuk produk UV-C upper room, sehingga tidak terpapar langsung ke tubuh manusia, sehingga sebaiknya instalasi dan maintenance dilakukan oleh tenaga profesional. Jika pun menggunakan sinar UV-C langsung, mesti diaplikasikan khusus untuk ruangan yang tidak ada orang. Lalu perhatikan juga pengukuran tingkat radiasi, pengaturan limbah produk, serta hal khusus lainnya. Untuk itu, saat ingin membeli produk UV-C, pilihlah produk yang diproduksi oleh perusahaan yang berpengalaman di bidang UV-C ini, serta memiliki reputasi dan portfolio yang baik.

 

Rangkaian Produk UV-C Signify

Bicara mengenai perusahaan yang berpengalaman dalam bidang pencahayaan, maka Signify adalah salah satunya. Siapa yang tak kenal dengan Signify yang sebelumnya bernama Philips, yang dikenal di seluruh dunia. Dalam bidang teknologi UV, Signify telah menjadi yang terdepan selama lebih dari 40 tahun. Tak perlu dipertanyakan lagi reputasi dan portfolionya. Perusahaan ini dikenal dengan produk-produknya yang inovatif, canggih, dan berkualitas.   

Sebagai bentuk kepeduliannya terhadap kesehatan, Signify menghadirkan berbagai produk desinfeksi UV-C, baik untuk udara, permukaan, dan benda, yang diperuntukkan bagi rumah tangga hingga profesional, seperti fasilitas kesehatan, gedung perkantoran, mal, sekolah, dan fasilitas umum lainnya. Produk UV-C Disinfection Air Signify terdiri dari unit yang dapat dipasang di plafon, di dinding, dan di lantai.

Philips UV-C Disinfection Upper Air Ceiling Mounted

Philips UV-C Disinfection Upper Air
Philips UV-C Disinfection Upper Air

Produk UV-C Signify ini khusus dipasang di plafon. Pemasangan unit ini mesti berada minimum 2,5 meter dari permukaan lantai, dan tidak terjangkau orang. Cara kerjanya dengan memancarkan sinar UV-C dengan volume besar pada udara di bagian atas ruangan, tanpa mengganggu aktivitas orang yang berada di bawahnya. Produk ini ramah lingkungan, karena tidak ada emisi ozon selama atau sesudah digunakan.

Philips UV-C Disinfection Upper Air Wall Mounted

Philips UV-C Disinfection Upper Air
Philips UV-C Disinfection Upper Air

Produk UV-C Signify ini khusus dipasang di dinding. Hampir sama dengan produk UV-C Disinfection Upper Air Ceiling Mounted, unit ini juga harus dipasang tinggi dari jangkauan orang, minimal 2,3 meter dari permukaan lantai. Cara kerjanya pun sama, dengan mengalirkan sinar UV-C di bagian atas ruangan, tanpa mengganggu aktivitas orang di bawahnya, serta sudah ramah lingkungan juga. Bedanya, pada unit ini menggunakan lampu dan driver Philips UV-C.

Philips UV-C Disinfection Air Unit

Philips UV-C Disinfection Air Unit
Philips UV-C Disinfection Air Unit

Berbeda dengan dua produk sebelumnya, produk UV-C Signify ini di desain portabel dan diletakkan di lantai. Produknya juga bisa dipindahkan dan tidak memerlukan instalasi atau pemasangan khusus. Mekanisme kerjanya pun berbeda dengan dua produk sebelumnya. Philips UV-C Disinfection Unit bekerja dengan cara menyerap kuman atau mikroorganisme yang ada di dalam ruangan (mencakup 80m3), lalu menonaktifkan kuman tersebut menggunakan sinar UV-C. Produk ini didesain secara modern, kuat, dan minimalis, dengan material pelindung untuk mengunci sinar UV-C di dalam perangkat. 

 

Mendengar penjelasan ini, saya jadi sedikit lebih tenang, terutama dengan adanya teknologi UV-C. Semoga semua lingkungan fasilitas kesehatan menggunakan produk ini. Jika setiap fasilitas kesehatan menggunakan teknologi UV-C, tentu pasien atau pengunjung, serta tenaga medis dan tenaga pendukung yang bekerja di fasilitas kesehatan tersebut akan merasa lebih aman. Nggak banget kan, jika niatnya ke fasilitas kesehatan ingin sembuh dari sakit eh pulangnya malah bawa penyakit lain, atau tenaga medis yang ingin merawat pasien serta tenaga pendukung yang bekerja di fasilitas kesehatan malah terpapar kuman dari pasien. Kehadiran produk desinfeksi berteknologi UV-C ini menjadi salah satu solusi untuk mencegah penyebaran HAIs di lingkungan fasilitas kesehatan.



  • Share:

You Might Also Like

0 comments