Kongres 1 Foodbank of Indonesia, Dorong Gerakan Perempuan untuk Kebangkitan Bangsa

By Dewi Sulistiawaty - Mei 29, 2022

 Kongres 1 Foodbank of Indonesia FOI

Jika bercerita tentang sejarah Kemerdekaan Indonesia, tentu tak lepas dari peran para pejuang bangsa ini. Hadirnya organisasi Budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908 oleh Dr. Soetomo, yang kemudian diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional, menjadi pelopor organisasi pergerakan nasional, dan menjadi gerakan awal untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Bangsa kita melalui perjuangan yang sangat panjang hingga akhirnya bisa terbebas dari kungkungan para penjajah. Perlawanan yang awalnya masih bersifat kedaerahan dan menggunakan senjata, akhirnya diimbangi dengan perjuangan secara diplomasi lewat berbagai perundingan. Kehadiran Budi Utomo juga membuat masyarakat Indonesia kala itu sadar akan pentingnya nasionalisme, dan dengan bersatu, bangsa kita bisa lebih kuat melawan penjajah.

Jadi tak heran jika Kebangkitan Nasional memiliki arti yang sangat penting bagi bangsa kita. Nilai-nilai yang terkandung dalam Kebangkitan Nasional pun ditanamkan pada masyarakat, dari generasi ke generasi. Kebangkitan Nasional merupakan bentuk kebangkitan bangsa kita dari keterpurukan, hingga kita bisa bangkit untuk menggapai masa depan. Tentunya semua diawali dengan bangkitnya kesadaran kita untuk tetap semangat memperjuangkan apa yang ingin kita gapai.

Alhamdulillah, negara kita sudah menjadi negara merdeka sejak diproklamirkannya kemerdekaan bangsa Indonesia pada tgl 17 Agustus 1945 oleh Bapak Soekarno – Hatta. Namun apakah perjuangan sudah selesai? Belum! Setelah Indonesia merdeka pun masih banyak terjadi pergolakan di berbagai daerah. Bahkan bangsa penjajah masih mencoba untuk menjajah kembali bangsa kita. Syukurnya semua itu bisa diatasi dengan baik.

Namun dengan kemerdekaan yang kita peroleh, bukan berarti perjuangan kita telah usai. Justru itu baru awal dari perjuangan kita untuk melanjutkan dan mempertahankan kemerdekaan. Mengapa? Karena sekarang kita mesti berjuang untuk memakmurkan hidup kita, mensejahterakan bangsa ini. Masih ada rakyat Indonesia yang belum merasakan yang namanya kemerdekaan. Mereka masih berjuang untuk mendapatkan pangan, pendidikan, dan tempat tinggal yang layak.

Mirisnya, di tengah masyarakat yang masih kekurangan ini masih ada orang yang entah secara sadar atau tidak, membuang-buang makanan atau bahan pangan yang mereka miliki. Padahal jika bahan pangan atau makanan yang masih layak konsumsi ini dikumpulkan, bisa untuk memberi makan ratusan ribu mereka yang membutuhkan. Sedihnya lagi, negara kita ternyata merupakan salah satu negara penghasil sampah makanan atau food waste terbesar di dunia

Hal ini tentu saja sangat memprihatinkan. Di tengah ‘timbunan sampah makanan’, ada masyarakat yang tidak mendapatkan akses pangan yang layak, ada anak-anak yang kekurangan gizi, ada ibu hamil yang tak mampu memberikan asupan nutrisi yang baik untuk janinnya. Andaikan saja ada kesadaran dan empati dari mereka yang berlebih makan atau bahan pangan untuk diberikan pada mereka yang kekurangan. Andai saja masyarakat menyadari bahwa membuang makanan itu merupakan perbuatan mubazir yang tidak disukai Allah SWT.

Melihat kondisi ini, hadirlah Foodbank of Indonesia (FOI) yang diprakarsai oleh Bapak M. Hendro Utomo. Bersama dengan istri beliau, Ibu Wida Septarina, mereka meresmikan kehadiran FOI di bawah naungan Yayasan Lumbung Pangan Indonesia. Sebagai organisasi non-profit, FOI hadir dengan membawa semangat perjuangan untuk membuka akses pangan dan mengatasi kesenjangan pangan di masyarakat Indonesia. Dalam praktiknya, FOI menjadi jembatan antara masyarakat yang berlebih makanan dengan masyarakat yang membutuhkan.


KONGRES I FOODBANK OF INDONESIA

Kongres 1 Foodbank of Indonesia 2022
Kongres 1 Foodbank of Indonesia

Tahun ini, tepatnya pada tanggal 21 Mei 2022, FOI genap berusia 7 tahun. Tanggalnya cuma terpaut satu hari dengan diperingatinya Hari Kebangkitan Nasional. Untuk itu, dalam rangka memperingati hari lahirnya, sekaligus Hari Kebangkitan Nasional, FOI menggelar kongres pertamanya di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta. Kongres 1 Jaringan Bank Pangan Indonesia ini mengangkat tema “Kongres Jaringan Bank Pangan Indonesia: Kebangkitan Bangsa, Pangan, dan Perempuan” tersebut dilaksanakan pada hari Rabu, 25 Mei 2022.

Museum ini awalnya adalah Gedung STOVIA, yang melahirkan banyak kaum pelajar Indonesia. STOVIA kemudian dialihfungsikan menjadi Museum Kebangkitan Nasional. Di gedung inilah semangat persatuan, kesatuan, dan nasionalisme para pemuda Indonesia bangkit. Dengan melaksanakan Kongres FOI di gedung ini, sepertinya dapat membangkitkan kembali semangat perjuangan kita untuk Indonesia #Merdeka100%

Kongres 1 Foodbank of Indonesia FOI
Rembuk Pangan

Tak hanya menghadirkan para relawan FOI dari berbagai daerah, kongres ini juga menghadirkan para tokoh, narasumber, serta pengamat sosial lingkungan dan ekonomi. Diantaranya ada Dr. H. Hidayat Nur Wahid, MA selaku Wakil Ketua MPR RI; Ir. R. Anang Noegroho, MEM selaku Direktur Pangan & Pertanian Bappenas; Prof. Dr. Arif Satria selaku Rektor IPB; M. Hendro Utomo selaku Pendiri Foodbank of Indonesia; Wida Septarina selaku Ketua Yayasan Lumbung Pangan Indonesia; Prof. Dr. Ahmad Sulaeman selaku Guru Besar Pangan dan Gizi IPB; Dr. Risatianti Kolopaking, M. Si selaku Psikolog; Yuvlinda Susanta selaku General Manager of Corporate Affairs & Sustainability PT. Lion Super Indo; Dr. Hanafi Sofyan Guciano sebagai Pengamat Sosial Lingkungan dan Ekonomi; serta Shanaz Haque sebagai Duta FOI sekaligus Penggiat Sosial.

Wida Septarina FOI
Ibu Wida

Dalam sambutannya saat pembukaan kongres, Ibu Wida menyampaikan informasi bahwa saat ini FOI telah didukung oleh sekitar 8.412 sukarelawan yang bekerja di akar rumput di 43 kota/ kabupaten dan 230 kecamatan di Indonesia. Dan 85% dari sukarelawan tersebut terdiri dari perempuan. Beliau juga menuturkan bahwa FOI ingin memastikan dapat mewujudkan Indonesia Merdeka 100% dari kelaparan. Namun untuk mewujudkan itu semua, tentu saja butuh pemahaman dari masyarakat, dan kerja sama dari segala pihak, mulai dari pemerintah, dunia usaha, ahli gizi, akademisi, donatur, masyarakat, dan media.

Sedangkan Bapak Hidayat menyampaikan bahwa dengan adanya gerakan yang diinisiasi oleh Foodbank of Indonesia diharapkan dapat menghadirkan budaya koreksi terhadap kemubaziran pangan, serta dapat memberikan solusi terhadap permasalahan tersebut. Untuk itu diperlukan gerak nyata, tak hanya dari FOI saja namun juga dari negara untuk penyelesaiannya.

     Bpk Hidayat Nur

“Kami di DPR, saya menginisiasi dan mengajukan suatu rancangan undang-undang tentang bank makanan untuk keadilan sosial, karena kami lihat ada kekosongan hukum. Ada UU tentang perlindungan perempuan dan anak, namun tidak terkait dengan masalah makanan. Lalu ada juga UU tentang pengentasan kemiskinan, namun tidak terkait dengan masalah makanan. Kami mengajukan UU ini untuk mendukung rekan-rekan seperti relawan FOI dan bangsa Indonesia agar kemubaziran bisa dikoreksi, warga Indonesia mendapatkan keadilannya, distribusi pangan dapat tersampaikan dengan baik, dan para relawan terlindungi dari sisi hukum,” ujar Bapak Hidayat.

Beliau menjelaskan bahwa regulasi terkait masalah makanan ini sangat diperlukan agar pergerakan organisasi bank pangan dapat terlindungi dengan baik, para donatur pun juga tidak ragu untuk menyalurkan donasinya, serta warga Indonesia pun bisa mengetahui bahwa kegiatan ini merupakan kegiatan yang legal. Bapak Hidayat sangat mendukung gerakan bank pangan dari FOI, dan beliau berharap agar regulasi terkait bank pangan ini bisa segera disahkan.  

Selanjutnya Bapak Anang Noegroho dalam kata pengantarnya mengatakan bahwa pemerintah melalui RPJMN 2020-2024 telah menempatkan ketahanan pangan sebagai agenda prioritas pembangunan. Beliau mengungkapkan rasa salutnya kepada FOI yang telah mendukung pemerintah. Harapannya nanti FOI dapat berkembang, dan bahkan akan lahir FOI-FOI lainnya. Bapak Anang juga berharap target-target pembangunan yang dicanangkan di tahun 2020 hingga 2024 dapat terwujud, khususnya dalam ketahanan dan kemandirian pangan. Menurut beliau, penting bagi kita untuk segera mewujudkan pangan yang bergizi, inklusif, dan bekelanjutan.

Usai mendengarkan sambutan dan kata pengantar dari para tokoh dan pejabat pemerintah, acara dilanjutkan ke sesi Rembuk Pangan, yang digelar dalam bentuk talkshow. Acara dengan tema “Kebangkitan Bangsa, Pangan, dan Perempuan” tersebut dimoderatori oleh seorang ibu, artis, penggiat sosial, sekaligus Duta FOI, yaitu Shahnaz Haque.

Tak dapat dipungkiri jika saat ini kaum ibu dan perempuan menempati tampuk-tampuk penting di berbagai bidang, termasuk di bidang pangan. Di rumah, ibu menjadi pengambil keputusan atas pangan, mulai dari mengumpulkan, mengolah, hingga mendampingi anak dan keluarganya makan. Apa yang dihidangkan ibu, sangat berpengaruh pada perkembangan dan kesehatan anak dan keluarganya. Ibu memegang peranan penting dalam menciptakan generasi masa depan, untuk Kebangkitan Bangsa Indonesia.

FOI yang fokus pada gerakan keadilan pangan dan menekan kemubaziran pangan, sudah beberapa tahun belakangan ini menginisiasi Gerakan 1000 Ibu, yaitu gerakan dari ibu, untuk ibu, dan bersama ibu. Gerakan ini merupakan gerakan kebangkitan perempuan melalui pangan, yang perlu didukung dan patut diberi apresiasi. Gerakan 1000 Ibu ini juga perlu didampingi dengan kampanye untuk mengkonsumsi pangan lokal, sebagai bagian dari menuju kebangkitan kedaulatan pangan Indonesia.

Bapak Hendro mengatakan bahwa lahirnya Budi Utomo menjadi tonggak perjuangan melalui cara organisasi, sehingga lahirlah bangsa Indonesia. Semangat inilah yang dibawa FOI dalam membuka akses pangan melalui cara terorganisir. Saat ini FOI terus mendorong terbentuknya organisasi-organisasi bank pangan di daerah, sebagai lumbung pangan modern, yang dipelopori oleh kaum perempuan. Lumbung-lumbung pangan ini sebagai antisipasi krisis pangan, serta untuk membangkitkan bangsa kita di masa depan.

Di akhir talkshow, Shahnaz menuturkan bahwa perempuan Indonesia adalah perempuan yang istimewa. Jika kita yakin bahwa apa yang kita kerjakan itu adalah sesuatu yang baik, maka teruslah berjalan. Walaupun kebaikan yang kita lakukan terkadang tidak dihargai oleh orang lain, karena orang yang baik itu selalu berjalan di jalan yang sepi. Di mata Tuhan, bukan siapa yang terbaik, namun siapa yang masih mau berbuat baik untuk orang lain.

Shahnaz Haque

“Jika anda yakin bahwa apa yang dilakukan itu baik, dan anda memiliki kualitas sebagai perempuan yang berlian, maka tak usah teriak-teriak untuk minta dihargai. Berlian itu akan tetap bersinar walaupun ia terjatuh, karena kerlipnya akan tetap terlihat. Jika anda teriak-teriak minta dihargai, maka anda sama seperti berlian palsu. Jadi selama kita yakin, kita sebagai perempuan berkualitas yang sangat baik, lakukan. Mencerahkan, mendidik, dan memberdayakan orang lain, karena perempuan Indonesia pantas untuk bangkit dan bersinar, dan sinarnya akan membantu menerangi hingga tidak terantuk-antuk jalannya,” pungkas Shahnaz.    


Dalam kongres 1 Foodbank of Indonesia yang diselenggarakan secara hybrid (offline dan online) ini terdapat juga mini pameran berisikan koleksi gambar kegiatan yang telah dilakukan FOI bersama dengan para relawan, serta produk pangan dan sepatu. Acara juga dimeriahkan dengan penampilan Tarian Panen Raya, dan kemudian ditutup dengan kegiatan foto bersama di depan Gedung STOVIA.

Foto bersama di Kongres 1 Foodbank of Indonesia FOI
Foto bersama di akhir acara



  • Share:

You Might Also Like

0 comments