Mengenal Neuropati dan Cara Mengobatinya

By Dewi Sulistiawaty - Maret 20, 2018

Sering mengalami kesemutan? Atau kebas dan kram di salah satu anggota tubuh? Saya pernah, misalnya saat duduk lama dengan posisi kaki bersila. Biasanya kaki saya akan kesemutan. Meregangkan kaki saat bangun tidur pun kadang membuat kaki saya kram atau naik betis kalau orang Melayu bilang. Kondisi ini saya sampaikan juga pada saat melakukan pengecekan risiko neuropati di acara Diskusi Mengenai Neurotropik dan Studi Klinis Terbaru NENOIN, di Hotel Borobudur  Jakarta pada hari Jumat, 16 Maret 2018 kemarin.


Diskusi mengenai neuropati dan vitamin neurotropik
Selain mengajukan beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan gejala neuropati dan riwayat penyakit yang mungkin saya alami, tenaga kesehatan yang memeriksa saya juga melakukan beberapa tes fisik, seperti mengetuk bagian lutut saya dengan palu karet dan tes menggunakan garpu tala. Hasilnya alhamdulillah, saya tidak berisiko neuropati. Lalu bagaimana dengan gejala yang saya alami? Apakah ini bisa jadi gejala neuropati? Sebenarnya apasih neuropati ini?

Neuropati atau saraf tepi adalah kerusakan saraf yang disebabkan penyakit, gaya hidup, trauma atau komplikasi dari suatu penyakit. Gejala dari penyakit neuropati ini diantaranya adalah anggota tubuh yang terasa kebas, kram, kesemutan, kelemahan otot, rasa sakit seperti terbakar, meningkatnya sensitivitas terhadap sentuhan, berkurangnya kepekaan terhadap rasa sakit, dan kehilangan sensasi. Gaya hidup yang tidak sehat menjadi salah satu penyebab terjadinya neuropati. Selain itu faktor usia, aktivitas yang sering dilakukan berulang-ulang, menderita diabetes, menderita hemodialisa, serta kekurangan vitamin B1, B6, dan B12 (vitamin neurotropik) juga menjadi penyebab seseorang bisa berisiko terkena neuropati.


Vitamin B1 berfungsi sebagai sumber energi bagi saraf, vitamin B6 untuk meningkatkan transmisi saraf, dan vitamin B12 berguna untuk memulihkan dan menjaga sel saraf dari kerusakan. Nah, setiap vitamin B ini ternyata terbukti dapat memperbaiki kerusakan sel saraf tepi lho! Makanya kombinasi ketiga vitamin B ini sering disebut sebagai vitamin neurotropik. Pernyataan ini bukan sekedar dugaan belaka, namun sudah dilakukan penelitian atau studi klinis terkait vitamin neurotropik ini.

Studi klinis mengenai kesehatan saraf tepi yang dilakukan oleh PERDOSSI dengan dukungan PT. Merck, Tbk ini disebut Studi Klinis NENOIN 2018. NENOIN merupakan singkatan dari Neurobion Non Interventional. Menurut dr. Manfaluthy Hakim, Sp.S(K), selaku Ketua Kelompok Studi Neurofisiologi dan Saraf Tepi PERDOSSI Pusat, mengkonsumsi vitamin neurotropik menunjukkan hasil yang baik terhadap gejala neuropati, bahkan mulai terlihat pada minggu kedua setelah pemakaian secara rutin. 12 minggu setelahnya ditemukan bahwa kualitas hidup responden makin meningkat, karena gejala neuropatinya yang mulai berkurang.

dr. Manfaluthy
“Setiap gangguan fungsi saraf akan menimbulkan gejala, mulai dari rasa kesemutan, baal atau kebas, kram, hingga mengalami kelumpuhan. Ini menunjukkan tingkat kerusakan dari sarafnya. Apa yang bisa kita lakukan untuk mengobati hal ini? Ada dua cara untuk mengobatinya, yaitu dengan cara menghilangkan gejalanya, atau dengan cara mengobati penyebabnya. Dari Studi Klinis NENOIN 2018 ini dihasilkan bahwa vitamin neurotropik yaitu kombinasi vitamin B1, B6, dan B12 dapat mencegah dan juga mengurangi gejala kerusakan saraf tepi yang dialami oleh responden. Pemberian vitamin neurotropik ini diterima dengan baik oleh tubuh responden, tanpa ada efek samping yang bermakna,” papar dr. Manfaluthy.

Informasi lengkap mengenai vitamin neurotropik kemudian disampaikan oleh Prof. Dr. Rima Obeid dari Saarland University Hospital, Jerman. Prof. Rima merupakan seorang pakar vitamin yang telah banyak melakukan riset mengenai vitamin B. Menurut beliau vitamin B memiliki banyak manfaat bagi tubuh kita.

Prof. Rima
“Vitamin B12 adalah vitamin yang mudah larut dalam air. Kekurangan vitamin B12 ini bisa terjadi pada mereka yang kurang atau tidak mengkonsumi makanan yang bersumber dari hewani, karena vitamin B12 banyak terdapat pada daging. Selain itu bisa juga terjadi pada mereka yang menderita penyakit tertentu, serta pada orang berusia lanjut karena tubuhnya yang sulit mengabsorsi vitamin B12,” jelas Prof. Rima.

Vitamin B12 sangat penting bagi metabolisme, menghasilkan energi, dan juga pembentukan DNA di dalam tubuh kita. Orang yang kekurangan vitamin B12 dapat terganggu kesehatannya, hingga mengalami penyakit yang cukup parah, dan jarang yang bisa survive. Antara vitamin B1, B6, dan B12 tersebut saling mendukung. Tubuh kita tidak akan dapat menggunakan asam folat dengan maksimal jika tidak ada vitamin B12. Kehadiran vitamin B12 menjadi penunjang bagi vitamin-vitamin lainnya.

Metabolisme atau fungsi saraf juga sangat dipengaruhi dengan adanya vitamin B12 dalam tubuh. Sehingga gangguan kesehatan yang sering terjadi jika tubuh kekurangan vitamin B12 biasanya adalah pada otak, seperti depresi, gangguan mood, dan demensia. Selain itu juga terjadi gangguan saat pembentukan sel darah merah, seperti anemia. Kekurangan vitamin B12 pada ibu hamil dan ibu menyusui bisa berdampak pada anaknya. Anak bisa mengalami gangguan fungsi kognitif dan juga gangguan kesehatan lainnya. Sedangkan kekurangan vitamin B12 yang terjadi pada pasien diabetes, maka fungsi lever-nya pun akan terganggu, yang kemudian dapat berakibat pada gangguan fungsi metabolisme lemak di dalam tubuh.  

Selain vitamin B12, vitamin B1 dan vitamin B6 pun memiliki banyak manfaat bagi tubuh. Namun kombinasi ketiga vitamin B ini sangat diperlukan, karena vitamin ini dengan fungsinya masing-masing, saling mendukung satu sama lainnya, misalnya efek anti peradangan, efek anti nyeri, dan juga dapat memperbaiki fungsi saraf. Mengkonsumsi vitamin B1, B6, dan B12 secara bersamaan dalam kombinasi vitamin neurotropik, aplikasinya lebih tinggi, bahkan dapat memperbaiki kerusakan yang terjadi sel saraf tepi.    

PT. Merck, Tbk yang berkomitmen untuk terus memberikan edukasi dan juga solusi mengenai neuropati pada masyarakat luas, ikut berpatisipasi dalam studi klinis NENOIN 2018 melalui produk Neurobion. Holger Guenzel, Direktur Divisi Consumer Health PT. Merck, Tbk mengatakan bahwa sejak tahun 2012 Merck, PERDOSSI, dan media partner sudah bekerjasama untuk bisa mengenalkan neuropati pada masyarakat Indonesia. Masih banyak masyarakat yang belum tahu dan aware mengenai neuropati ini.

Mr. Holger
“Sejak kerjasama ini, awareness masyarakat pun mulai meningkat. Namun tentu saja perjalanan ini terus dilanjutkan agar masyarakat makin peduli mengenai neuropati. Hari ini ada beberapa pembicara yang nanti akan menjelaskan mengenai neuropati, bagaimana cara pencegahan dan juga mengatasinya,” ujar Mr. Holger.

Ibu Anie Rachmayani, Associate Director Marketing Consumer Health Division PT. Merck, Tbk kemudian menjelaskan lebih lanjut mengenai solusi dan juga kampanye yang dilakukan Merck sejak tahun 2014 untuk #LawanNeuropati di Indonesia. Tiap tahunnya Merck selalu mengangkat tema yang berhubungan dengan neuropati. Pada tahun 2014 dimulai dengan tema “Waspadai Gaya Hidup Neuropati”, tahun 2015 dengan “Latih Sarafmu, Kurangi Risiko Neuropati”, dan pada tahun 2016 hingga sekarang barulah dengan tema yang sama, yaitu #LawanNeuropati.    

Ibu Anie
“Untuk tahun 2018 ini kita kedepankan mengenai solusi dari neuropati, yaitu dengan Kampanye Terintegrasi #LawanNeuropati. Tahun lalu kami bekerjasama dengan PERDOSSI melakukan kampanye, didukung juga oleh Kemenkes, Menpora, dan Pemprov DKI, dan melibatkan masyarakat luas. Kita melakukan senam kesehatan saraf, serta konsultasi dan pengecekan kesehatan saraf,” jelas Ibu Anie.

Kampanye ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat untuk hidup sehat lebih lama, dengan melakukan pencegahan dan deteksi dini neuropati. Dalam kampanye ini masyarakat diberikan edukasi mengenai neuropati agar tingkat kesadaran masyarakat semakin tinggi. Studi Klinis Non Intervensi (NENOIN) 2018 merupakan salah satu wujud komitmen Merck untuk edukasi neuropati ini. Bantuan yang diberikan Merck adalah dalam bentuk dukungan agar penelitian ini bisa terlaksana dengan baik.

Nah, penjelasan dari para pakar tadi bisa diartikan kalau saya bisa saja terkena neuropati jika tidak melakukan gaya hidup sehat dalam keseharian, atau melakukan gerakan berulang-ulang tanpa disertai dengan break sejenak untuk membuat otot rileks dan melancarkan peredaran darah. Mengkonsumsi makanan bergizi seimbang, seperti protein hewani yang kaya akan vitamin B, buah dan sayur, serta olahraga dan tidur yang cukup, juga dapat membantu tubuh agar bisa melakukan fungsinya dengan baik dan optimal. Jika sudah terlanjur terkena neuropati, mengkonsumsi vitamin neurotropik bisa menjadi salah satu solusi terbaik untuk mengurangi gejala neuropati yang dirasakan, dan bahkan mungkin bisa juga mengobatinya :)


Foto-foto : Pribadi

  • Share:

You Might Also Like

2 komentar

  1. Wowh, sayang kemaren di akhir acara aku ga sempet nyoba tes neuropati ini. Pdahal cuma diketuk pakai palu karet ya wkwkkw. Yukkk ahh makin rajin konsumsi daging nih, yang terkadang suka dilupakan emang. Padahal kandungan vitamin B12 ini diperlukan ya untuk mencegah penyakit neuropati.

    BalasHapus
  2. Hahaha udah lama aku gak dengar istilah "naik betis". :p Aku kapan itu rutin konsumsi kombinasi vitamin B, terus lupa. Tempo hari ikutan seminar ini, inget lagi. Sekarang tablet kombinasi vitamin B aku taruh dekat meja kerja aku supaya inget minumnya.

    BalasHapus