BJtech, Bikin Chatbot Mudah Tanpa Coding

By Dewi Sulistiawaty - 02.07


“Mau tanya dong, size 37 masih ada nggak?”
“Size 37 ready. Silakan dipesan ya. Terima kasih :)”

“Lokasi pengirimannya dari mana ya?”
“Toko kami di Bekasi. Silakan dipesan ya. Terima kasih :)”

***

Pernah baca percakapan seperti di atas? Atau malah pernah chatting seperti itu? Haha, saya pernah, saat berbelanja di salah satu ecommerce ternama. Trus kebanyakan balesan komennya ya seperti itu, sama. Senang? Yap, karena responnya cepat. Kan memang maunya dibales cepat, agar bisa langsung order :D

Biasanya kalau kita chat, dan langsung dibales secepat itu, yang bales adalah Chatbot. Tau kan Chatbot? Chatbot merupakan layanan yang didukung dengan kecerdasan buatan, untuk berinteraksi dengan pengguna melalui chatting interface. Kalau dilihat-lihat, Chatbot ini sudah banyak diaplikasikan oleh marketplace, untuk mempermudah dan mempercepat layanan pada pelanggannya.

Ada beberapa perusahaan yang menyediakan layanan Chatbot ini, salah satunya PT. Jualan Online Indonesia, melalui platform BJtech. BJtech merupakan sebuah platform percakapan berbasis AI yang memungkinkan semua orang, baik itu untuk pelaku bisnis maupun individu, untuk mengembangkan Chatbot sesuai dengan kebutuhan masing-masing melalui messaging app.

Informasi mengenai BJtech dan Chatbot ini disampaikan pada acara Launching & Media Gathering AI Conversation Platform pada hari Rabu, 21 Maret 2018 di Freeware Spaces Jakarta. Tahun 2015 PT. Jualan Online Indonesia sudah meluncurkan Bang Joni, yaitu sebuah consumer Chatbot platform pertama di Indonesia. Nah, untuk platform BJtech ini memungkinkan semua orang untuk mengembangkan Chatbot sendiri, tanpa perlu coding (yang tentu rumit bagi orang awam macam saya, hehe).

Launching BJtech
Mas Arra
Mas Arra Primanta, selaku Chief Marketing Officer BJtech mengatakan bahwa nantinya Chatbot ini bisa berfungsi untuk membantu para pelaku UMKM sebagai digital customer care selama 24 jam. Sedangkan bagi individu, Chatbot bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Saat ini Chatbot mulai jadi tren di industri marketplace atau UMKM, karena fungsinya yang dapat meminimalisir penggunaan tenaga, waktu, dan juga biaya.

Baidewei menurut Mas Afifuddin Kalla, Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), jumlah UMKM di Indonesia saat ini adalah 58 juta unit, dan ini terus bertumbuh. Beberapa diantaranya belum berbadan hukum. Sedangkan yang terdata di HIPMI adalah yang sudah berbadan hukum. Mayoritas pelaku UMKM sudah memanfaatkan digital platform.

Mas Afif
“Mereka, pelaku UKM sudah banyak memanfaatkan teknologi digital untuk melakukan transaksinya. Kita mengenal 3 revolusi industri, yang pertama yaitu dulu kita mengenal perubahan dari industri agraris menjadi non agraris. Lalu berpindah ke industri manufaktur. Selanjutnya timbul industri 3.0, yaitu industri internet di tahun 90-an. Hingga sekarang ada industri 4.0, yang mau tidak mau kita harus siap menerima kedatangannya. Kita akan memberikan contoh pada anggota, bagaimana agar mereka bisa memanfaatkan tools teknologi ini untuk menaikkan omsetnya,” jelas Mas Afif.

Industri 4.0 adalah sistem industri secara physical yang menggunakan Artificial Intelligence (AI). Saat ini AI banyak digunakan oleh pelaku industri sebagai tools dalam berdagang, dan untuk dapat menopang kegiatan usahanya. Inilah bagian dari revolusi industri yang harus siap diterima kalangan pelaku bisnis. HIPMI sendiri sudah mulai menerapkannya, dengan membuat sebuah aplikasi untuk mengumpulkan semua data anggotanya.

Di dalam industri 4.0 ini pasti akan terjadi pergeseran, baik itu dari cara kita membeli ataupun menjual sesuatu. Dengan perubahan ‘kultur’ ini tentu ditopang oleh banyak hal, termasuk dukungan teknologi, salah satunya adalah Chatbot. Chatbot dapat memudahkan pelaku industri dalam mengoperasikan usahanya, serta dapat memberikan layanan selama 24 jam bagi customer.  

Info dari Mas Afif, ada pelaku UKM yang memiliki satu toko offline, namun memiliki 10 toko online. Penghasilan yang didapat pelaku UMK tersebut dari toko online-nya jauh di atas toko offline-nya. Bisa dikatakan bahwa zaman sekarang, untuk membuka usaha jauh lebih mudah dan murah. Tak perlu punya toko fisik, cukup dengan internet dan perangkat pendukungnya, kita sudah bisa buka usaha secara online.

Pesan Mas Afif bagi pelaku industri atau UMKM, agar bisa bertahan di industri 4.0 ini, agar jangan pernah tertutup dengan teknologi, bukalah mindset bahwa teknologi itu baik, dapat membantu dan memudahkan kita dalam menjalankan usaha. Teknologi membuat pekerjaan kita menjadi lebih efisien dan efektif. Memanfaatkan teknologi untuk memulai suatu usaha jauh lebih mudah dan sangat murah.

Saat ini pelaku UKM banyak yang memanfaatkan media sosial untuk berdagang. Salah satu platform yang sering digunakan adalah LINE. LINE sudah menyediakan layanan Chatbot untuk para pelaku UKM yang ingin mengirimkan informasi tentang usahanya, promo produk, atau info lainnya bagi customer. Ibu Crista Sabathaly, LINE@ Senior Business Development Manager pun kemudian menjelaskan mengenai penggunaan Chatbot di LINE.

Ibu Crista
“Di channel LINE sendiri memang ada fitur Chatbot juga. Chatbot itu sudah jadi primadona di revolusi industri. Di LINE punya platform khusus untuk digital SMI. Jadi buat para UKM yang ingin melakukan marketing atau customer service secara langsung, itu bisa di LINE@. Ini seperti official account ya,” jelas Ibu Crista.

Dengan LINE@ (LINEat), user dapat menggunakan akun bisnis untuk berkomunikasi dengan klien atau pelanggan melalui broadcast message, chatting, dan post timeline. Menurut Ibu Crista, hingga awal tahun 2018 ini, sudah lebih dari 2,3 juta akun LINE@ terdata di Indonesia, sejak dibukanya layanan ini sekitar 3 tahun lalu. Nah, beberapa akun LINE@ memanfaatkan Chatbot untuk memberikan informasi produk dan pemesanannya. LINE@ sendiri menggandeng Bang Joni sebagai Agency Expert untuk menyempurnakan online shop Chatbotnya.

Dengan layanan Chatbot, selain bisa melayani pelanggan selama 24 jam, tanpa perlu capek-capek bagi admin untuk balesin satu persatu chat dari pelanggannya, juga lebih menghemat biaya, karena nggak mesti punya admin khusus untuk balesin pesan dari pelanggan :D Di LINE@ sendiri broadcast message bisa diskedul sesuai dengan keinginan. Salah satu tujuan adanya layanan Chatbot di LINE@ adalah ingin mendekatkan antara pengguna dengan pelanggannya.  

CEO BJtech, Mas Diatce G. Harahap mengungkapkan bahwa BJ tech adalah singkatan dari Bang Joni technology, yang merupakan conversation digital platform, yang dikembangkan agar semua orang bisa menggunakannya, tanpa repot harus mengerti tentang coding terlebih dulu. BJtech menghadirkan solusi yang ramah untuk semua orang.

Mas Diatce
“Sekarang itu, customer experience sangatlah penting. Generasi milenial, memilih brand itu berdasarkan experience. Kita pernah berkolaborasi dengan Bank BNI membuat CINTA (Chat with your Intelligent Advisor), yaitu sebuah kanal dengan cara chatting dengan ‘Cinta’ di media aplikasi chatting, yang dapat melengkapi fungsi BNI seperti buka rekening, pinjam uang, dll,” papar Mas Diatce.

Nah, dengan kehadiran BJtech bikin Chatbot nggak perlu coding lagi. Menurut Mas Diatce lagi, bikin Chatbotnya sendiri tak lebih dari 15 menit. Tinggal bikin LINE@ di LINE, nanti ada panduannya. Gaya bahasa bisa disesuaikan sehingga nanti terlihat seperti bukan bicara dengan bot. Jadi sangat mudah dan bisa diaplikasikan oleh semua pelaku UKM maupun individu untuk kepentingannya masing-masing. Menurut saya, kehadiran Chatbot benar-benar dapat membantu para pelaku usaha maupun customer-nya.

BJtech Dashboard
Pelanggan senang karena mendapat layanan yang cepat dan memuaskan. Pengusaha juga terbantu karena tidak perlu mengeluarkan waktu dan tenaga ekstra untuk melayani pertanyaan dari pelanggan satu persatu, Dengan begitu tentu omset penjualan akan meningkat, karena pelanggan yang puas dengan layanannya. Itulah gunanya teknologi, membuat semua aktivitas kita menjadi lebih praktis, murah, dan efisien. Untuk mengetahui info lebih lengkap mengenai BJtech, bisa kunjungi website bjtech.io ya :) 


Foto-foto : Pribadi   

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar