Tip Menjaga Kesehatan Mata

By Dewi Sulistiawaty - November 04, 2019

“Dari mata turun ke hati”, “Dari matamu…matamu, kumelihat…”,“Mata indah bola pingpong”, “Tatap matamu bagai busur panah”, dan masih banyak lagi deh lagu-lagu lainnya yang memasukkan “mata” sebagai unsur yang menarik dalam tiap liriknya :D

Ibaratnya dari mata seseorang itu, kita bisa melihat apa yang ada di dalam hati dan pikirannya. Semua tergambar dari pancaran matanya. Misalnya kalau lagi happy, bola matanya akan terlihat bersinar, kalau lagi sedih matanya akan terlihat tak bercahaya gitu, bahkan ada yang pandangan matanya kelihatan kosong, seperti orang yang lagi banyak pikiran.

Begitu pun sebaliknya, dari mata pula kita bisa melihat dunia. Bisa dibayangkan hidup tanpa mata, semuanya gelap, tak ada satupun yang bisa dinikmati secara visual. “Mata merupakan jendela dunia”. Begitu ungkapan yang sering kita dengar. Makanya bersyukurlah dengan nikmat mata sehat yang telah diberikan Sang Pencipta sejak kita lahir. Mensyukurinya bisa dengan cara merawat apa yang telah diberikan-Nya.

“Mata saya masih sehat kok! Apanya yang mau dirawat?”, ucap seorang tetangga yang usianya masih belia.

Nah, mindset seperti ini yang mesti diubah. Punya mata yang sehat, bukan berarti dibiarkan begitu saja, tanpa dirawat. Nanti bisa saja karena kondisi tertentu atau seiring dengan bertambahnya usia, fungsi mata jadi menurun atau rusak. Kondisi seperti ini bisa diminimalisir dengan merawatnya sedini mungkin. Gak harus menunggu kesehatan matanya terganggu dulu, baru dirawat dan diobati. Psst… segala sesuatu yang telah rusak, jarang lho yang bisa dikembalikan lagi seperti sediakala, termasuk mata.

Lalu gimana sih caranya merawat mata agar tetap sehat? Dalam acara yang diselenggarakan oleh Signify pada hari Kamis, 31 Oktober 2019 di Hotel Fairmont Jakarta, saya mendapatkan informasi bagaimana caranya menjaga dan merawat mata dengan baik dan benar.

Talkshow "Mata Sehat Mendukung SDM Hebat"
(kiri-kanan) Bapak Burhan, dr. Rita, dr Tri, dan Ibu Lea
Selain Mr. Rami Hajjar selaku President Director Signify Indonesia, Bapak Burhan Noor Sahid selaku Head of Marketing Signify Indonesia, dan Ibu Lea K. Indra selaku Head of Integrated Communication Signify Indonesia, hadir juga narasumber ahli di bidang kesehatan, yaitu Dr. dr. Tri Rahayu, SpM(K), dan Dr. Rita Ramayulis DCN, M.Kes.

Sebagai seorang spesialis kesehatan, dr. Tri mengatakan bahwa 80% informasi yang kita peroleh berasal dari mata. Itulah sebabnya mengapa mata diibaratkan sebagai jendela dunia. Masalahnya gangguan mata sepertinya merupakan hal yang lumrah terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Ini akibat kurang aware nya masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan mata. Padahal jika dibiarkan, gangguan kecil pada mata bisa menyebabkan terganggunya penglihatan kita.

Menurut dr. Tri masalah kesehatan mata secara global yang umumnya terjadi adalah katarak, gangguan refraksi yang tidak terkoreksi, glaucoma, retinopati diabetic, AMD (degenerasi macula akibat usia lanjut), dan kebutaan anak. Nah, gangguan ini ada yang ringan, yang bisa dibantu dengan penggunaan kacamata, dan ada juga yang berat, yang dikategorikan sebagai kebutaan, yaitu mata yang tidak mampu melihat benda dengan tajam dalam jarak kurang dari 3 meter hitung jari.

Berdasarkan hasil survei Badan Internasional, dari 7,3 miliar populasi dunia, 253 juta diantaranya mengalami gangguan pada penglihatannya. 55% diantaranya merupakan penderita gangguan penglihatan berusia produktif, dan 89% penderita merupakan masyarakat yang berpenghasilan rendah.

Melihat kondisi ini, Badan Internasional WHO bekerja sama dengan International Agency for the Prevention of Blindess (IAPB) melancarkan kampanye “Vision 2020: The Right to Sight” untuk mencegah dan mengurangi angka penderita gangguan penglihatan di dunia.

Bagaimana di Indonesia sendiri? Ternyata angka penderita gangguan penglihatan masih sangat tinggi, dan umumnya banyak terjadi di usia di atas 50 tahun. Apa yang menjadi penyebabnya? Menurut dr. Tri, selain rendahnya tingkat kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan mata, masalah sarana dan SDM kesehatan mata juga diduga menjadi penyebab masih tingginya prevalensi kebutaan di Indonesia.

Jika dulu masalah gangguan mata umumnya terjadi pada usia lanjut, sekarang gangguan mata bisa terjadi pada anak-anak. Apa penyebabnya? Karena gaya hidup yang berubah. Aktivitas indoor, kurang bergerak, dan lama bermain dengan gadget merupakan penyebab utamanya.

Makanya tak heran anak-anak zaman now sudah berkaca mata, bahkan ada yang usianya masih 3 tahun sudah bergantung dengan kaca mata. Mulai dari gangguan refraksi, myopia (rabun jauh), hyperopia (rabun dekat), astigmatisme, strabismus, hingga terjadi kelainan pada kongenital, seperti katarak. Yup, anak-anak bisa terkena katarak. Miris ya :( Jika gangguan penglihatan pada anak dibiarkan begitu saja atau tidak segera ditanggulangi, maka dapat menyebabkan ambiyopia (mata malas).

Pernah mendengar tentang “Mata Lelah”? Sepertinya saya sering mengalaminya, huhu. Mata Lelah atau Asthenopia biasanya disebabkan karena lamanya mata menatap layar komputer, gadget, ataupun buku. Selain itu mata juga bisa lelah saat dipaksa untuk melihat dalam cahaya redup dan atau cahaya yang sangat terang, serta kurangnya frekuensi berkedip pada mata. Biasanya ini akibat keasyikan menatap layar gadget/ komputer/ buku hingga lupa berkedip, yang menyebabkan mata menjadi kering dan perih.

Tanda-tanda dari mata lelah adalah penglihatan ganda dan penglihatan buram, mata berair, silau, pegal di sekitar alis, pelipis, dahi, atau leher, hingga sakit kepala. Nah, bagi kamu yang sering berinteraksi dengan yang namanya komputer ataupun gadget, sebaiknya lakukan istirahat secara berkala, menempatkan sumber cahaya jauh dari layar komputer, berikan filter anti-silau pada layar komputer, pasang tirai pada jendela, serta periksakan mata dan koreksi gangguan pada refraksi dengan memilih model kaca mata yang tepat.

Tak hanya dari pencahayaan saja, namun posisi duduk dan posisi layar komputer/ gadget juga dapat mempengaruhi kenyamanan mata. Disarankan jarak layar dengan mata minimal 50 cm, dengan letak bagian tengah layar 10-20 derajat (5-6 inci) di bawah garis pandang. Atur posisi postur tubuh untuk menghindari nyeri otot leher, punggung, bahu, dan kepala (posisi ergonomis).

dr. Tri juga menjelaskan bahwa untuk membuat mata nyaman, yang bisa berefek pada kesehatan penglihatan, sebaiknya perhatikan pemakaian bola lampu atau bohlam. Sebaiknya gunakan bohlam yang tidak berkedip, tidak silau, cahayanya menyebar merata, terang secara optimal, kontras adekuat, warna-warna terlihat dengan baik, serta tidak ada efek stroboscopic-nya.
       
Selain itu, baik orang dewasa maupun anak-anak perlu menggunakan pencahayaan yang baik saat melakukan kegiatan sehari-hari. Ajaklah anak-anak untuk lebih sering melakukan kegiatan outdoor. Karena cahaya alami dari matahari akan lebih baik untuk kesehatan mata. Hindari paparan sinar UV-B, rokok, serta kemungkinan cedera saat bekerja dengan menggunakan pelindung mata.

Itu salah satu cara untuk menjaga kesehatan mata dari luar ya. Sedangkan dari dalam, tubuh butuh asupan nutrisi yang cukup dan seimbang agar bisa melakukan fungsinya dengan baik, termasuk organ mata.

Sebagai pakar nutrisi, dr. Rita menyampaikan bahwa untuk menutrisi mata dibutuhkan Vitamin A dan protein hewani. Info menarik yang baru saya ketahui adalah, bahwa ternyata wortel bukanlah sumber Vitamin A. Tapi wortel merupakan pro Vitamin A, yang dapat diubah di dalam tubuh menjadi Vitamin A. Jadi yang lebih dibutuhkan untuk menutrisi mata adalah Vitamin A, protein, dan zink.


Tips menjaga kesehatan mata menurut dr. Rita adalah dengan menyayangi mata, menggunakan penerangan yang cukup dalam setiap aktivitas, khususnya membaca, serta rutin memeriksakan mata. Lalu berikan bonus makanan sehat untuk mata, seperti tomat, kiwi, wortel, dll. Btw, dari dr. Rita saya mengetahui bahwa mengkonsumsi wortel sebanyak-banyaknya ternyata mata jadi sehat ya. Mengkonsumsi satu zat gizi yang terlalu banyak atau berlebihan, bisa menjadikannya radikal bebas di dalam tubuh, yang nanti malah dapat mengganggu kesehatan. Begitupun sebaliknya.

Ngomong-ngomong tentang bohlam yang nyaman di mata, Signify yang merupakan brand pemimpin dunia di bidang pencahayaan, sudah cukup lama mengeluarkan produk bohlam Philips LED yang nyaman di mata. Bahkan Signify menghadirkan khusus bohlam Philips LED EyeComfort dengan kualitas cahaya yang tinggi dan baik untuk kesehatan mata.

Bapak Burhan kemudian menjelaskan bagaimana kriteria lampu yang nyaman di mata, yaitu yang tidak berkedip, tidak bikin silau, tidak berisik, cahayanya menyebar merata, aman dari cahaya biru, dapat menampilkan warna dengan baik, dan tidak ada efek stroboskopik (kemampuan untuk menghilangkan distorsi dalam persepsi gerak).

Bohlam Philips LED EyeComfort terinspirasi dari susunan biji bunga matahari, sehingga dengan mengaplikasikan pada Philips LED, cahaya yang dihasilkan dapat tersebar secara merata. Bapak Burhan mengatakan bahwa dengan teknologi ini, bohlam Philips LED EyeComfort mampu memenuhi semua kriteria lampu yang nyaman di mata.

Mr. Rami Hajjar
Kita berterima kasih dengan anugerah mata yang membuat kita bisa melihat dunia, mata pun akan berterima kasih pada kita dengan membuatnya nyaman. “…with EyeComfort and Interlaced Optics product range, your eyes will thank you!

Memperingati Hari Penglihatan Sedunia 2019 (World Sight Day 2019), Signify yang peduli dengan kesehatan mata masyarakat dunia, bekerja sama dengan Perdami untuk mendukung visi pemerintah menciptakan SDM Hebat. Dengan mata yang sehat, akan tercipta SDM yang hebat. 



Foto: pribadi      

  • Share:

You Might Also Like

0 comments