Lampaui Batas dengan Tubuh dan Pikiran yang Sehat

By Dewi Sulistiawaty - Oktober 17, 2018


Apakah kamu punya pengalaman dalam menembus batas keberanianmu? Oh, kamu pernah melakukan uji nyali di tempat angker, dan berhasil? Atau kamu menerobos lampu merah, padahal ada polantas di sana *ckck kalo ini gak perlu dicontoh ya. Mungkin banyak lagi pengalaman lainnya yang menurutmu itu telah melampaui batas keberanianmu ya. Setiap orang memiliki berbagai macam pengalaman yang menurutnya mereka itu menembus batas keberaniannya, tapi menurut yang lain hal tersebut biasa saja. Nah, begitu pun dengan pengalaman saya dalam melampaui batas keberanian yang saya miliki.

Siapa bilang bermain di dunia media sosial tak membawa dampak positif. Itulah yang terjadi pada saya. Kebiasaan bermedia sosial telah menghantarkan saya untuk mengelola akun media sosial salah satu kementerian. Bangga? Banget! Siapa sangka, di ‘usia cantik’ saya bisa mendapatkan pekerjaan yang menyenangkan dan sesuai dengan passion saya, yaitu media sosial. Itukah pengalaman menembus batas yang ingin saya bagi? Ow, tidak, itu baru awal dari perjalanan saya bekerja pada salah satu instansi pemerintah paling berpengaruh di semua kementerian itu.

Usai melaksanakan tugas mengelola akun media sosial, ternyata pekerjaan tersebut lanjut, dan saya diajak untuk bersama dengan tim lainnya dalam mengelola majalah internal salah satu kedeputian di kementerian tersebut. Saya pun dipercaya untuk menjadi salah satu reporter majalah. Di sinilah keberanian saya mulai diuji. Walaupun sebagai blogger saya sering menghadiri berbagai event lalu menuliskannya di blog. Menjadi reporter untuk majalah pemerintahan agak berbeda. Bukan saja menghadiri event, tapi saya juga harus bisa dan berani mewawancarai narasumber untuk majalah tersebut.

Mewawancarai? Oh, no. Itu bukanlah keahlian saya. Jangankan mewawancarai narasumber, bicara di depan mereka saja mungkin lidah saya bisa kelu. Bukannya kenapa, karena narasumbernya kebanyakan adaalah para petinggi di kementerian lembaga. Apalagi saya termasuk orang yang lebih senang bekerja di belakang layar. Menurut saya, mewawancarai merupakan pekerjaan depan layar, wekeke. Namun karena punya teman-teman tim yang baik, saya pun di awalnya ditemani saat wawancara, hingga kemudian terbiasa. Thank’s team! :*   

Doorstop Menteri PPN waktu itu 
Menyenangkan? Tentu saja, karena saya mendapatkan ilmu baru saat menyelesaikan pekerjaan di sana, mengenal ruang lingkup dan orang-orang yang bekerja di kementerian lembaga, serta wawasan saya bertambah, terutama menyangkut pekerjaan pemerintah dalam menganalisa, memecahkan, dan menyelesaikan segala permasalahan yang ada di Indonesia. Tak saya pungkiri, kalau dilihat pekerjaan ini memang agak berat, terutama dalam membuat konten, yang harus sesuai dengan pakem dan gaya kepenulisan khas ‘pemerintahan’ yang baku. Biasanya kalau sebagai blogger, konten yang diulas kebanyakan lebih ringan dan memiliki gaya bahasa ala penulis sendiri dalam menuangkannya di blog.

Itu saja? Tentu tidak, sampai suatu saat saya diminta mewawancarai beberapa narasumber yang berada di daerah timur Indonesia. Jika ke daerah tersebut ada temannya, bagi saya nggak masalah ya. Ini saya mesti ke sana sendiri, mengunjungi daerah timur yang belum pernah saya jejaki sama sekali. Takut? Iya. Karena selama ini saya biasanya hanya mondar mandir sendiri antara Sumatera – Jawa. Ini ke timur Indonesia, yang menurut saya memiliki adat dan kebudayaan yang berbeda dengan wilayah barat. Jangan ejek saya dengan mengatakan, bagaimana jika saya mesti ke luar negeri sendiri, sementara menjelajah di negeri sendiri saja tidak berani XD Pikiran saya berkecamuk saat itu. Duh! Kalau saya ingat-ingat, konyol juga tingkah saya kala itu XD

Jadilah saya mesti memberanikan diri berangkat sendirian ke sana. Apa yang membuat saya takut? Awalnya saya takut tersesat. Gimana kalau saya bertemu dengan sopir taksi yang jahat? Kalau saya kenapa-kenapa gimana? Trus makanannya. Saya denger daerah yang saya kunjungi ini terkenal dengan makanan sea food-nya, wicis saya nggak suka. Nanti saya makan apa di sana kalau sajian makanan di hotel itu semua, trus nggak ada tempat makanan lain yang jualan dekat hotel. Duh, bisa kurus saya balik dari sana ntar. Mending kurus, kalo sakit gimana?

Mendekati hari keberangkatan pun saya mulai menguatkan mental dan tentu saja prepare barang-barang yang mesti saya bawa. Mulai dari perlengkapan mandi (karena saya nggak tahu kondisi hotel tempat saya menginap, jadi sebaiknya disiapin aja), beberapa pakaian ganti plus dalemannya, peralatan make-up tentu saja :D, berkas-berkas, buku catatan kecil plus pulpen, laptop, kamera, charger, earphone, serta powerbank. Jangan heran kalau saya juga membawa printilan lainnya, seperti cotton bud, tusuk gigi, gunting kuku, obat sakit kepala, minyak kayu putih, dan Herbadrink Sari Jahe.

Herbadrink Sari Jahe
Buat apa bawa Herbadrink Sari Jahe? Ya, buat saya minumlah XD Saya kan nggak tahu bagaimana kondisi tubuh saya dengan perubahan iklim di sana. Apakah di sana cuacanya dingin atau panas. Herbadrink Sari Jahe dapat menghangatkan tubuh saya, membantu meredakan gejala masuk angin, dan perut kembung. Jaga-jaga juga kalau nanti di sana saya makannya kurang, jangan sampai saya masuk angin. Yang ada kerjaan di sana malah nggak beres nanti.

Sepertinya saya nggak perlu jelasin lagi kan ya, kalau jahe itu memang banyak sekali manfaatnya. Selain sebagai bumbu dapur, jahe sangat bagus untuk kesehatan tubuh. Seperti yang saya kutip dari msn.com, selain untuk menghangatkan tubuh, jahe bermanfaat untuk meredakan nyeri dan peradangan di perut, seperti nyeri otot dan kram perut karena menstruasi. Rempah yang satu ini juga berfungsi untuk menghilangkan jerawat, memiliki efek anti-tumor, melancarkan peredaran darah, menormalkan kembali komposisi kadar kolsterol dan gula darah, merangsang pertumbuhan rambut, mencegah ketombe dan rambut rontok, serta menurunkan stres. 

Makanya banyak orang yang suka minum wedang jahe kan. Nah, saya juga begitu. Untuk menghangatkan dan menyegarkan kembali tubuh, saya biasanya mengkonsumsi wedang jahe. Masalahnya, nggak semua tempat menyediakan wedang jahe kan. Gimana kalau di sana nggak ada wedang jahe, bisa berabe saya. Makanya dengan membawa Herbadrink Sari Jahe, saya sudah merasa membawa wedang jahe bersama saya, hehe. Kenapa?

Karena Herbadrink Sari Jahe ini terbuat dari bahan-bahan herbal atau alami dan diolah dari ekstrak murni sari jahe. Satu lagi, Sari Jahenya tanpa endapan, tanpa pengawet, dan bebas gula. Jadi tentu saja aman bagi kesehatan dan juga bagi penderita diabetes, serta bagi yang lagi diet gula. Sebenarnya selain Sari Jahe, untuk jaga-jaga, saya membawa Sari Temulawak dan Lidah Buaya juga, namun stok untuk Sari Jahe lebih banyak aja :D

Dan tahukah kamu? Ternyata sesampainya di sana, kenyataannya tak separah yang saya pikirkan. Masyarakat di sana sangat-sangat ramah, lebih ramah dari Jakarta malah wakaka. Mereka sangat baik dan murah senyum. Hilang sudah rasa takut bakal tersesat dan hal-hal horor lainnya yang ada di otak saya. Apalagi hotel tempat saya menginap ternyata letaknya di seberang mal besar di kota tersebut, wicis di sana pasti terdapat berbagai resto dan makanan cepat saji yang bisa saya pilih jika ternyata makanan di hotel tak sesuai dengan selera. Lega? Banget! Namun begitu saya tetap minum Herbadrink Sari Jahe karena cuaca di sana lagi musim hujan.

Menghangatkan tubuh dengan wedang jahe eh Herbadrink Sari Jahe
Selama di sana saya juga disediakan mobil lengkap dengan sopirnya yang ramah, yang siap mengantarkan saya kemana aja. Jadi, nggak ada lagi yang perlu dicemaskan. Narasumber yang harus saya wawancarai juga ‘welcome’ orangnya. Dengan begitu pekerjaan saya lebih cepat selesainya dari perkiraan. Jadilah saya meminta sopir untuk mengantarkan saya keliling kota, terutama ke tempat-tempat wisata yang ada di sana, plus ke pusat penjualan oleh-oleh khas daerah sana tentunya.

Well, jika kita menjalankan apa yang menurut pikiran kita berat dan menganggap belum tentu bisa melaluinya, setelah dijalani ternyata nggak seberat itu juga kok. Buktinya saya bisa melampui batas keberanian saya, yang mungkin bagi sebagian orang, hal ini merupakan hal yang sepele. Yang penting memiliki persiapan yang matang aja, dan tentu saja kondisi tubuh yang fit dan sehat, agar apa yang akan kita lakukan tersebut bisa berjalan dengan lancar :)      




Foto-foto: Pribadi

  • Share:

You Might Also Like

0 comments