Pameran dan Seminar Kelapa Sawit Nasional

By Dewi Sulistiawaty - Februari 25, 2018



Beberapa waktu lalu, Media Perkebunan, sebuah media yang fokus membahas tentang pembangunan sub sektor perkebunan tanah air, yang berkolaborasi dengan Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian RI, menyelenggarakan Seminar Nasional, yang disertai dengan Pameran Pupuk dan Benih Unggul Kelapa Sawit. Seminar dilaksanakan selama 2 hari, yaitu Rabu, 21 Februari dan Kamis, 22 Februari 2018, di Menara 165 Convention Center, Jakarta Selatan.
 
Seminar berlangsung dari pagi hingga sore hari, dengan menghadirkan narasumber yang kompeten di bidangnya, serta dihadiri juga oleh para pemangku kepentingan kelapa sawit, yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Tema yang diusung pada seminar nasional kali ini adalah “Kiat Sukses Replanting & Meningkatkan Produktivitas Sawit Secara Berkelanjutan”. Berbagai isu penting, seperti replanting, Good Agricultural Practices (GAP), mekanisme, serta sistem pembiayaan, akan dibahas dalam seminar ini.

Usai menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan berdo’a bersama, acara dibuka oleh Bapak Ir. Gamal Nasir, MS selaku Pemimpin Umum Media Perkebunan. Menurut Bapak Gamal, seminar ini dihadiri oleh sekitar 250 orang peserta, yang terdiri dari para pengusaha kelapa sawit, petani, perguruan tinggi, asosiasi kelapa sawit, para pemerhati perkebunan kelapa sawit, serta media.

Bpk. Gamal Nasir
“Seminar ini sangat penting, mengingat saat ini kebun petani yang layak teknis untuk direplanting adalah sekitar 2 juta hektar dari 4,7 juta hektar kebun sawit kita. Bapak presiden dalam setiap kesempatan memerintahkan agar segera replanting kebun sawit rakyat. Seperti yang kita ketahui, hanya didapat sekitar 2 ton CPO per hektar  pertahunnya. Seharusnya kita dapat mencapai 6 ton per hektar pertahunnya,” ungkap Bapak Gamal.

Hasil yang sedikit ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti banyaknya tanaman sawit yang sudah tua, serangan hama, dan lain sebagainya. Belum lagi ada bibit yang berasal dari benih asalah sehingga produk yang dihasilkan kurang berkualitas. Untuk itulah, dalam seminar ini dihadirkan juga narasumber yang kompeten, yang akan membahas mengenai teknis pembibitan, bioteknologi, pemupukan, dan pengendalian hama penyakit.

Bapak Gamal berharap seminar ini dapat bermanfaat bagi semua peserta yang hadir, dan juga bagi kesejahteraan petani sawit di Indonesia, sesuai dengan tujuan yang dicita-citakan selama ini. Acara kemudian dilanjutkan dengan penyerahan 6000 alat panen Tandan Buah Segar (TBS) secara simbolis oleh Dirjen Perkebunan. Penyerahan diterima oleh 5 perwakilan asosiasi petani sawit, yaitu Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit, Ketua Asosiasi Aspektir Riau, Ketua SAMADE, Ketua KUD Sadar Sejahtera Lubuk Linggau, dan Ketua KUD Musi Banyuasin.


Penyerahan alat panen TBS secara simbolis
Dalam sambutannya, Bapak Ir. Bambang, MM, Direktur Jenderal Perkebunan menyampaikan bahwa kelapa sawit Indonesia saat ini menghadapi berbagai permasalahan. Berbagai isu negatif sengaja dihembuskan untuk menjatuhkan industri kelapa sawit kita. Mulai dari isu internasional, seperti isu lingkungan, isu sosial, serta isu HAM. Isu ini merupakan bagian dari persaingan komoditi.

Dirjen Perkebunan
“Kita butuh dukungan dari semua pihak, karena sawit Indonesia sedang menghadapi tantangan yang luar biasa. Harusnya kita wajib untuk melindungi sawit ini, karena di saat energy dari fosil mulai habis, maka energi dari sawit akan menjadi solusi untuk mengatasinya. Sawit merupakan sumber minyak nabati energi baru terbarukan, yang dapat menghasilkan pangan dan juga energi,” papar Bapak Bambang.

Namum begitu, tidak dipungkiri juga bahwa kelapa sawit rakyat masih membutuhkan pembenahan. Sawit rakyat baru 25% yang baru tersertifikasi ISPO dari total sawit yang ada. Ini perlu didorong agar sawit rakyat bisa ISPO semua. Diperlukan perbaikan lagi terhadap tata kelolanya, yang dapat membantu para petani sawit, sehingga tidak ada lagi orang yang mengatakan ‘tidak’ untuk kelapa sawit rakyat. Jadi, janganlah membenci sawit rakyat ini. Saran dan kritikan membangun tentu sangat diperlukan untuk perbaikan dan kemajuan industri sawit Indonesia.

Begitupun kerjasama antara pelaku industri dengan petani sawit. Tidak ada industri kelapa sawit yang bisa memberikan keuntungan, tanpa ada sinergi yang baik dengan para petani sawit. Sebaiknya harus saling menguntungkan kedua belah pihak ya, jangan hanya pelaku industri saja. Bapak Bambang berharap agar sawit Indonesia bisa terus maju, dan pelaksanaan replanting bisa segera terwujud. Selanjutnya Dirjen Perkebunan pun secara resmi membuka kegiatan Pameran dan Seminar Nasional.

Dirjen Perkebunan mengunjungi salah satu booth di ruang pameran
Pameran Pupuk dan Benih Unggul Kelapa Sawit

Seminar Nasional
Seminar Sesi I dimoderatori oleh Bapak Rusman Heriawan, dengan menghadirkan 3 narasumber lainnya, yaitu Bapak Bambang dari KUD Musi Banyuasin, Bapak Mudarisman dari KUD Sadar Sejahtera – Lubuk Linggau, serta Bapak Wawan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS). Diskusi diawali oleh Bapak Bambang, Ketua KUD Musi Banyuasin, yang menceritakan pengalaman replanting sawit dalam presentasinya.

Ketua KUD Musi Banyuasin mengatakan bahwa KUD mereka sudah mendapatkan saluran pembiayaan peremajaan kelapa sawit dari BPDPKS, yang diperuntukkan bagi sekitar 933 petani sawit, dengan total lahan seluas 2032 hektar. Latar belakang replanting yang dilakukan oleh KUD Musi Banyuasin adalah karena rata-rata sawit yang mereka kelola sudah berusia genap 25 tahun. Sehingga tidak memungkinkan lagi untuk menghasilkan tbs dengan harga yang tinggi. Ini tentu saja memunculkan masalah bagi kelembagaan petani di sana.

Ketua KUD Musi Banyuasin
“Untuk mengurangi masalah ini, makanya kami sepakat untuk melakukan replanting. Tahun 2016 itu sedang gencar-gencarnya sosialisasi bantuan replanting. Makanya kami tangkap itu sebagai peluang. Kami mengakui sebagai pengusaha di bidang kelapa sawit, baik petani maupun perusahaan, dampaknya cukup besar bagi masyarakat, dari budidaya kelapa sawit ini,” jelas Ketua KUD Musi Banyuasin.

Jika replanting tidak dilakukan dan direncanakan dengan baik oleh para pelaku perkebunan, termasuk di dalamnya para pemangku kepentingan, regulasi, dan yang terkait dengan budidaya kelapa sawit, mustahil sawit di Musi Banyuasin dapat diremajakan. Namun ada beberapa masalah yang akan terjadi saat replanting ini, seperti para petani yang biasanya mempunyai penghasilan yang cukup baik, lalu tiba-tiba saja penghasilannya terputus. Ini tentu saja musti dicarikan solusinya. Sebagai informasi, empat KUD di Musi Banyuasin, dalam waktu kurang dari 2 bulan, sudah dapat melepaskan lahan seluas 1600 hektar untuk replanting sawit.

Selanjutnya Bapak Mudarisun, Ketua KUD Sadar Sejahtera Lubuk Linggau yang menceritakan tentang KUD Sadar Sejahtera, dengan sistem kemitraan yang menurutnya sangat menguntungkan.

Bpk. Mudarisun
“Awalnya saya tidak kepikiran sama sekali bakal bisa sukses seperti saat ini. Bisa menyekolahkan anak hingga S2. Semuanya berkat kelapa sawit, dan juga berkat kerjasama kemitraan yang sangat baik antara KUD Sadar Sejahtera dengan PT. Djuanda Sawit Lestari,” ujar Bapak Mudarisun.

Perkenalan Bapak Mudarisun dengan kelapa sawit diawali saat ia dan keluarganya datang sebagai keluarga transmigran di daerah Lubuk Linggau, Sumatera Selatan. Saat itu perekonomian sangat sulit, hingga akhirnya ada perusahaan yang masuk ke daerah mereka, dan membawa angin segar bagi mata pencaharian penduduk transmigran. Tak lama kemudian barulah berdiri koperasi di sana.

Pola kemitraan di KUD Sadar Sejahtera Lubuk Linggau menggunakan sistem kemitraan satu atap, yaitu semua bentuk pengelolaan kebun, baik organisasi, kerja kebun kelapa sawit, administrasi, pengupahan, program kerja, standar kerja, serta pupuk dan obat-obatan, semuanya dikelola oleh koperasi. Keuntungan dari kemitraan satu pintu ini adalah pengelolaan kebun sesuai dengan standar, pendapatan petani optimal, suplai pupuk dan obat-obatan dengan harga inti, memperpanjang usia produksi tanaman, serta tidak memikirkan biaya pupuk, obat-obatan, tenaga kerja, dll.

Ada 3 prinsip kemitraan PNDA menurut Bapak Mudarisun, yaitu 3S (Saling percaya, Saling membantu, Saling menguntungkan), transparansi atau keterbukaan, dan kesinambungan. Prinsip yang selama ini dijalin bersama, yang membuat mereka berhasil hingga saat ini, dan mampu menghasilkan rata-rata 2.470.000 per hektar. KUD Sadar Sejahtera pernah meraih Koperasi Awards Tahun 2014, dan juga penghargaan untuk koperasi berprestasi tingkat nasional.

Bapak Wawan kemudian menjelaskan lebih lanjut mengenai program pembiayaan replanting di perkebunan kelapa sawit. Untuk menjamin tata kelola yang baik, ada 5 tahapan yang harus ditempuh dalam program ini, yaitu proses verifikasi, perjanjian kerjasama, penyaluran dana, monitoring dengan evaluasi, serta pengembalian pinjaman. Selama masa peremajaan, petani diharapkan tetap berpenghasilan melalui aktivitas yang terkait dengan peremajaan atau non peremajaan. Program ini telah diresmikan oleh presiden pada tgl 13 Oktober 2017 lalu, di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Program ini akan terus berlanjut di berbagai wilayah di Indonesia. Diharapkan program ini dapat meningkatkan kesejahteraan petani.

Bpk. Wawan
“Prinsip utama pelaksanaan program replanting itu adalah legalitas, sustainability, dan sertifikasi ISPO. Jadi petani musti memiliki legalitas terhadap lahan, bagi yang belum akan dibantu untuk menyiapkannya. Lokasi pembukaan lahan pun musti sesuai dengan kaidah konservasi, penerapan budidaya yang baik, pengelolaan lingkungan, dan kelembagaan. Nah, untuk menjamin prinsip sustainability ini, petani musti mendapatkan sertifikasi ISPO,” papar Bapak Wawan.

Bapak Wawan berharap agar tata kelola peremajaan kelapa sawit ini dapat terus dibantu untuk disosialisasikan. Program ini rencananya akan dilaksanakan di 20 provinsi. Ke-20 provinsi ini merupakan area yang sangat luas, sangat menyita waktu dan juga butuh energi yang tidak sedikit, jika sosialisasi hanya dilakukan oleh tim BPDPKS saja. Jadi BPDPKS sangat mengharapkan bantuan dan dukungan dari berbagai pihak, untuk bisa bahu membahu mensosialisasikan tata kelola replanting.

Sektor sawit sangat penting bagi perekonomian nasional. Selain sebagai penghasil devisa terbesar, juga menyerap jutaan tenaga kerja. Hampir separuh dari perkebunan kelapa sawit dimiliki oleh petani rakyat. Makanya peran petani rakyat sangatlah penting. Namun sayangnya, perkebunan sawit rakyat masih memiliki produktivitas yang rendah. Program replanting sawit rakyat merupakan solusi untuk mengatasi masalah ini. Ayo satukan langkah kita, singkirkan segala halangan, untuk menjadikan sawit rakyat lebih maju lagi :)


Foto-foto : Pribadi

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar