Peran Dompet Dhuafa dalam Pengentasan Kemiskinan

By Dewi Sulistiawaty - Februari 25, 2023

 Welcome Ramadan dari Hati Dompet Dhuafa

Tak terasa, kurang dari sebulan lagi, seluruh umat muslim akan kembali menunaikan ibadah puasa bulan Ramadan, bulan suci yang selalu dinantikan dan dirindukan kedatangannya. Untuk menyambut kehadirannya, tentu kita harus mempersiapkan diri sebaik mungkin agar dapat melaksanakan ibadah puasa dengan khusuk dan maksimal. Dengan begitu diharapkan puasa dan ibadah yang kita kerjakan dapat diterima Allah SWT. Aamiin....

Selain memperkuat iman dan menguatkan niat, serta tentunya mempersiapkan kesehatan fisik dan jasmani, maka persiapan lain yang bisa dilakukan adalah membekali diri dengan cara memperdalam ilmu agama. Ilmu yang diperdalam bisa apa saja terkait dengan ibadah dan berbagai amalan yang biasanya dilaksanakan selama bulan Ramadan. Misalnya ilmu tentang sholat tarawih, i’tikaf dan do’a-do’a di bulan Ramadan, malam lailatul qadar, sedekah, zakat, dan banyak lagi ilmu lainnya.

Ketika Dompet Dhuafa menggelar talkshow yang menjadi rangkaian dari kegiatan tarhib Ramadan beberapa hari yang lalu, tepatnya pada hari Rabu, 22 Februari 2023, ini merupakan kesempatan yang tak boleh disia-siakan. Saat mengikuti kegiatan ini, Berasa Sudah Ramadan :) Talkshow digelar di Tigalima Coffee – Kitchen, Gondangdia, Jakarta Pusat, dengan mengusung tema “Welcome Ramadan Dari Hati”. Acaranya terbagi dalam dua sesi, yaitu sesi pertama mengangkat topik tentang Peran Lembaga dalam Pengentasan Kemiskinan, dan sesi kedua membahas tentang Digitalisasi di Dunia Filantropi.

Acara dibuka dengan welcome speech dari Ibu Suci Nuzleni Qadarsih selaku Ketua Ramadan 1444 H Dompet Dhuafa. Dalam sambutannya Ibu Suci menjelaskan sedikit mengenai 5 pilar program yang diusung oleh Dompet Dhuafa, yaitu Kesehatan, Pendidikan, Ekonomi, Sosial Kemanusiaan, serta Dakwah dan Budaya. Sebagai lembaga filantropi Islam, Dompet Dhuafa juga memiliki beberapa instrument dalam gerakannya, yang biasa disebut ZISWAF atau Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf.

Dompet Dhuafa hadir dengan program Ramadan Dari Hati dengan tujuan ingin mengajak seluruh masyarakat untuk ikut serta membagikan rezkinya kepada mereka yang membutuhkan, dan semua dilakukan dari hati, karena segala sesuatu yang dilakukan dari hati, tentunya juga akan dilaksanakan dengan niat yang tulus dan ikhlas.

Tarhib Ramadan dari Hati Dompet Dhuafa
Ibu Suci

“Dengan adanya kegiatan Ramadan Dari Hati ini semoga dapat menjadi pengingat bagi masyarakat untuk mulai melakukan berbagai persiapan, baik fisik maupun spritual dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadan. Di bulan Ramadan ini Dompet Dhuafa mengajak masyarakat untuk turut terlibat dalam program Parsel Ramadan yang nantinya akan dibagikan ke berbagai pelosok negeri. Dompet Dhuafa juga ingin mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menebarkan kebaikan, terlebih selama Ramadan, melalui berbagai program kemanusiaan Dompet Dhuafa. Setiap manusia memiliki kebaikan dalam hatinya, khususnya untuk berbagi dengan sesama,” jelas Bu Suci.

 

Peran Lembaga dalam Pengentasan Kemiskinan

Walau negara kita bukan termasuk dalam kategori negara termiskin di dunia, namun fakta dan data menyatakan bahwa masalah kemiskinan masih mendominasi status ekonomi masyarakat Indonesia. Untuk mengatasi permasalahan ini, tentu tak bisa diselesaikan sendiri oleh pemerintah, namun dibutuhkan juga bantuan dan kerja sama dari berbagai pihak, termasuk lembaga atau organisasi kemasyarakatan.

Untuk itu, Dompet Dhuafa sebagai salah satu lembaga filantropi Islam terbesar di Indonesia turut mendukung pemerintah dalam mengatasi permasalahan ini. Sebagai lembaga filantropi Islam yang berkhidmat dalam pemberdayaan kaum dhuafa, Dompet Dhuafa selalu mengedepankan pendekatan welas asih dalam setiap gerakannya.

Peran Lembaga Dompet Dhuafa dalam Mengentaskan Kemiskinan
Talkshow Welcome Ramadan dari Hati: Peran Lembaga dalam Pengentasan Kemiskinan
(Kiri-kanan: Kang Ade, Tira, Bpk Gaib, dan Bpk Haryo) 

Pada sesi pertama talkshow bersama Dompet Dhuafa kemarin dibahas mengenai bagaimana sebenarnya peranan lembaga dalam mengentaskan kemiskinan di Indonesia, dengan menghadirkan narasumber yang kompeten di bidangnya, diantaranya ada Bapak Haryo Mojopahit selaku GM Komunikasi Dompet Dhuafa, Bapak Gaib Maruto Sigit dari MNC Radio Network, Kang Ade Lukmana dari Desa Tani, Tira Mutiara selaku Peneliti IDEAS, serta Mas Fazri Rizkiya selaku pemandu acara atau Moderator.

Pak Haryo mengatakan bahwa Dompet Dhuafa sangat peduli dengan isu-isu kemanusiaan, kebencanaan, dan kemiskinan. Dompet Dhuafa meyakini bahwa kemiskinan itu bukan saja perkara penghasilan yang berada di bawah standar. Kategori kemiskinan tiap orang atau tiap negara itu bisa berbeda-beda. Di Islam sendiri bisa dilihat dari perhitungan zakatnya. Jika orang tersebut memiliki harta di bawah 85 gram emas, maka orang tersebut akan dikategorikan sebagai mustahik (golongan orang yang berhak menerima zakat), sedangkan jika hartanya lebih dari 85 gram emas, berarti orang tersebut termasuk golongan muzakki (orang yang mengeluarkan zakat).

Selanjutnya Pak Haryo menjelaskan bagaimana strategi Dompet Dhuafa dalam mengentaskan kemiskinan di Indonesia. Pak Haryo pun memperkenalkan Segitiga Strategi Pemberdayaan Dompet Dhuafa, diantaranya ada Pemberdayaan Ekonomi dengan tujuan Pertumbuhan Ekonomi, Pemberdayaan Sosial dengan tujuan Ketersediaan Akses, dan Advokasi untuk tujuan Keadilan.

Masing-masing aspek pemberdayaan tersebut memiliki strateginya masing-masing, seperti untuk Pemberdayaan Sosial, Dompet Dhuafa memberikan bantuan langsung berupa makanan, pakaian, obat-obatan, beasiswa, tempat tinggal, dan lain sebagainya yang dianggap darurat dan dibutuhkan. Sedangkan untuk Pemberdayaan Ekonomi, Dompet Dhuafa memberikan bantuan berupa pelatihan-pelatihan untuk mengembangkan perekonomian, sehingga orang-orang yang dibantu bisa mandiri dan memiliki penghasilan sendiri, dan tak tergantung lagi pada bantuan yang diberikan.

Untuk Strategi Advokasi, Dompet Dhuafa memberikan bantuan pada orang-orang yang memiliki kemampuan, dan sudah berusaha untuk mengembangkan keterampilannya, namun belum mendapatkan akses atau pasar untuk usahanya. Dompet Dhuafa akan mendampingi orang tersebut, serta bersama dengan stakeholder lain untuk memperbaiki sistem dan kebijakannya, dan memperkuat jaringannya.

Untuk Strategi Pemberdayaan Sosial dibagi lagi menjadi 3 hal, yaitu dengan menghilangkan kedaruratan (memberikan bantuan langsung), membuka akses untuk mendapatkan bantuan/ layanan, dan menambah aset, seperti tabungan beasiswa dan keterampilan. Begitupun dengan Pemberdayaan Ekonomi dan Advokasi, Dompet Dhuafa akan memberikan pendampingan pada orang-orang yang membutuhkan.

Tira sebagai Peneliti IDEAS mengatakan bahwa pengentasan kemiskinan di Indonesia merupakan tugas bersama, dan bukan saja pemerintah. Walaupun pemerintah sudah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi masalah kemiskinan, namun usaha ini belum maksimal. Di sinilah peranan lembaga atau organisasi nirlaba, organisasi amal, maupun organisasi pengelola zakat. Dari hasil studi hubungan zakat dengan kemiskinan diketahui bahwa ternyata pendistribusian zakat yang dilakukan oleh Dompet Dhuafa lewat berbagai programnya mampu menurunkan tingkat kemiskinan mustahik binaannya sebesar 10%, jika dibandingkan dengan kondisi sebelum zakat didistribusikan (Irfan Syauqi Beik, 2010).

Sedangkan dari studi terkini (M. Najib Murobbi & Hardius Usman, 2021) ditemukan hasil bahwa melalui analisis regresi, zakat berpengaruh signifikan dengan hubungan negatif terhadap kemiskinan. Artinya semakin tinggi dana zakat yang diterima, maka tingkat kemiskinan di Indonesia akan turun.

Menurut Pak Gaib lembaga-lembaga filantropi yang benar-benar ‘hadir’ untuk masyarakat yang membutuhkan, patut untuk dipertahankan. Seperti Dompet Dhuafa yang tak hanya memberikan bantuan yang berdampak jangka pendek, namun juga berdampak untuk jangka panjang, seperti membuka akses bantuan, memberikan pelatihan, membangun mushola, mengelola anak yatim, mendirikan sekolah, dan lain-lain yang bermanfaat bagi masyarakat dalam jangka waktu yang lama.

“Tugas kita sebagai media adalah memberitakan hal itu agar masyarakat yakin bahwa apa yang diberikan itu ada manfaatnya buat publik. Dan menurut saya lembaga filantropi yang paling bagus dari segi komunikasi dengan media adalah Dompet Dhuafa,” ungkap Pak Gaib.

Sebagai seorang petani, pelaku usaha, dan juga pendamping pertanian masyarakat di Jawa Barat, Kang Ade membagikan pengalaman dan perjalanannya dalam mengangkat derajat dan martabat para petani. Semua ide dan keinginan Kang Ade tersebut secara perlahan mulai terwujud ketika beliau bertemu dengan Dompet Dhuafa.  

 

Digitalisasi di Dunia Filantropi

Digitalisasi di Dunia FIlantropi Dompet Dhuafa
Talkshow sesi 2: Digitalisasi di Dunia Filantropi
(Kiri-kanan: Mas Totok, Bpk Ghazali, Bpk Agung, dan Bpk Putra)

Acara dilanjutkan dengan talkshow sesi kedua, yang dipandu oleh Mas Totok Hadi. Pada sesi kedua ini hadir Bapak Pradwita Ghazali selaku Direktur Country Lead FreakOut Dewina Indonesia, Bapak Agung Lesmana selaku Head of Sharia Business Development & Product Solution PT. Bank Jago Tbk, dan Bapak Prima Hadi Putra selaku Direktur Komunikasi dan Teknologi Dompet Dhuafa.

Bagi Dompet Dhuafa, teknologi merupakan suatu keharusan, karena bagaimanapun juga Dompet Dhuafa harus mengikuti perkembangan zaman. Apalagi sejak pandemi kemarin, yang telah membuka banyak mata pengambil keputusan untuk memanfaatkan teknologi. Sebenarnya Dompet Dhuafa sendiri sudah sejak lama mengembangkan sistem berbasis digital, namun waktu itu belum begitu berhasil, sebab saat itu belum ada sistem payment yang mendukung.

“Pengalaman-pengalaman seperti itu akhirnya menjadi contoh dan membuat kita lebih aware dan hati-hati dalam membuat aplikasi teknologi, apalagi setelah pandemi ini, yang pergerakan digitalnya sangat cepat, Dompet Dhuafa perlu mengembangkan sistem digital untuk mendukung operasional dan layanannya,” ujar Pak Putra.

Pengembangan sistem digital ini merupakan hal yang penting bagi Dompet Dhuafa untuk menunjang layanan ke berbagai stakeholder, donatur, dan benefisiaris, terutama dalam hal percepatan respon demi kemudahan dan kenyamanan semua pihak. Selain itu, sistem digital juga akan memudahkan Dompet Dhuafa dalam melakukan pendataan, penghimpunan dan pencatatan donasi, serta konsolidasi laporan. Untuk itulah Dompet Dhuafa menghadirkan digital.dompetdhuafa.org sebagai kanal utama transaksi yang bisa diakses oleh masyarakat dimanapun dan kapanpun.

“Dalam hal kemiskinan, Dompet Dhuafa memandang masalah kemiskinan itu sebagai sebuah paradigma segitiga. Misalnya dalam memenuhi program sosial tadi, Dompet Dhuafa membuat program-program yang dapat memenuhi kebutuhan dasar tersebut. Begitu pula dengan program ekonomi dan open akses tadi. Penerapan program digitalisasi pada ketiga aspek tersebut tentu berbeda-beda pula, disesuaikan dengan kebutuhannya,” jelas Pak Putra lagi.

Sebagai perusahaan yang memiliki teknologi AI, Bapak Ghazali mengatakan bahwa lembaga filantropi Islam seperti Dompet Dhuafa tentu bisa memakai teknologi AI untuk mempermudah layanan dan juga operasionalnya. Teknologi ini bisa digunakan oleh semua kalangan, dan tidak saja digunakan sebagai advertising saja.

“Kita bisa melihat betapa besarnya potensi zakat di Indonesia, mencapai 250 triliun rupiah, yang dapat melindungi sekitar 2,5% masyarakatnya, dan itu belum digital. Nah, bagaimana jika teknologi AI masuk ke situ, sehingga 250 triliun ini output-nya memiliki kebermanfaatannya lebih beragam,” jelas Pak Ghazali.

Untuk lebih memaksimalkan layanannya, serta untuk memudahkan masyarakat dalam berzakat, Dompet Dhuafa pun bekerja sama dengan berbagai stakeholder. Salah satunya adalah dengan Bank Jago Syariah, sebuah layanan perbankan syariah berbasis teknologi digital terkini, yang hadir dengan berbagai fitur canggih, dan tak kalah dengan perbankan konvensional.

“Tak hanya hadir dengan fitur-fitur yang canggih, Jago Syariah juga menawarkan layanan yang mudah dan cepat. Jago Syariah juga bekerja sama dengan Dompet Dhuafa dalam penggalangan zakat, infak, wakaf, dan sedekah. Nantinya dananya akan disalurkan kepada penerima manfaat,” pungkas Pak Agung.

Upaya digitalisasi lembaga filantropi Islam, seperti yang dilakukan oleh Dompet Dhuafa tentunya diharapkan dapat meningkatkan hasil penghimpunan dana, agar sebaran penerima manfaat dapat lebih luas lagi, sehingga lebih banyak lagi masyarakat yang terbantu, penyaluran bantuannya menjadi lebih cepat dan tentunya lebih tepat sasaran, serta yang pasti dapat mengurangi angka kemiskinan di Indonesia. Aamiin....



  • Share:

You Might Also Like

0 comments