Senin, 18 September 2017

Bangkitkan Lagi Kejayaan Pulau Kelapa

Tanah airku Indonesia
Negeri elok amat kucinta
Tanah tumpah darahku yang mulia
Yang kupuja sepanjang masa

Tanah airku aman dan makmur
Pulau kelapa yang amat subur
Pulau melati pujaan bangsa
Sejak dulu kala

Melambai-lambai, nyiur di pantai
Berbisik-bisik, raja k’lana
Memuja pulau, nan indah permai
Tanah airku, Indonesia


Masih ingat dengan Lagu Rayuan Pulau Kelapa ciptaan Ismail Marzuki ini? Pastilah masih ingat ya. Dulu kita sering menyanyikan lagu wajib nasional ini di sekolah, bahkan anak-anak sekarang pun masih menyanyikannya. Beberapa stasiun televisi juga masih suka menyiarkan lagu abadi ini sebagai penutup siarannya.

Pada salah satu lirik Lagu Rayuan Pulau Kelapa tersebut terdapat kalimat bahwa Indonesia merupakan pulau kelapa yang amat subur. Dari lirik ini saja bisa disimpulkan bagaimana berjayanya kelapa pada masa itu, hingga dijadikan sebuah lirik lagu oleh seorang sastrawan terkenal Indonesia.

Dengan iklimnya yang tropis, serta banyaknya daerah pesisir pantai, menjadi salah satu faktor tumbuh suburnya pohon kelapa di Indonesia. Tahukah kamu, mengapa pramuka menggunakan tunas kelapa sebagai lambangnya? Buah kelapa atau dikenal juga dengan nama nyiur ini, merupakan buah yang bisa bertahan lama dalam keadaan apapun juga, dapat tumbuh dimana saja, serta memiliki banyak manfaat, mulai dari akar, batang, bunga, buah, serta daunnya. Tidak ada yang terbuang dari sebuah pohon kelapa.

Namun sangat disayangkan, kejayaan pulau kelapa yang disandang Indonesia seakan-akan mulai pupus tergerus zaman. Salah satu penyebabnya adalah isu negatif mengenai kelapa, yang sempat berhembus pada tahun 80-an. Mengingat bagaimana bermanfaatnya kelapa ini bagi kehidupan, khususnya bagi masyarakat Indonesia, maka perlu dibangkitkan lagi kejayaannya. Inilah kemudian yang dijadikan sebagai topik oleh Media Perkebunan, pada acara Diskusi Nasional pada hari Kamis, 14 September 2017 kemarin, di Gedung C Kementerian Pertanian, Jakarta.
 
Diskusi Nasional di Gedung C Ditjenbun Jakarta
Selain Bapak Ir. Bambang, MM selaku Direktur Jenderal Perkebunan, hadir juga pada acara Bapak Dr. Ismail Maskromo, sebagai Kepala Balit Palma, Badan Litbang Pertanian, Bapak Prof. Nelson Pomalingo, sebagai Bupati Gorontalo, dan Bapak H.Muhammad Wardan, sebagai Bupati Indragiri Hilir Riau, serta seorang praktisi bisnis dari PT. Pulau Sambu.

Dari 3,6 juta kelapa yang ada di seluruh Indonesia, masih banyak yang berada dalam kondisi yang belum optimal dengan tingkat produktifitas rendah. Hal ini disampaikan oleh Bapak Bambang saat membuka acara diskusi. Harusnya kelapa ini bisa lebih ditingkatkan lagi potensinya jika dipelihara dengan baik. Belum lagi kondisi kelapa yang kebanyakan sudah tua, sehingga perlu dilakukan peremajaan.

Untuk pengembangannya, Bapak Bambang berpendapat bahwa untuk kelapa yang sudah ada dan walaupun sudah tua, perlu diintensifkan lagi. Kecuali untuk kelapa yang berasal dari benih yang kurang baik, yang memang perlu peremajaan. Kelapa ini bisa dimanfaatkan sebagai naungan untuk tanaman kakao, kopi, dll. Lalu untuk kebun-kebun kelapa yang sebelumnya terkena serangan hama penyakit atau petir, bisa dihidupkan kembali.

Bapak Bambang
“Kalau tiga hal ini kita lakukan untuk mencapai 5 juta hektar sebagai semangat kita di Festival Kelapa Indragiri Hilir, saya kira tidak susah untuk kita selesaikan tanpa harus mencari tambahan ruas area yang lain. Kakao kita ada 1,7 juta hektar. Ini bisa kita tanam kelapa sebagai naungan. Dengan pendekatan setengah populasi, berarti ada minimal sekitar 500 ribu hektar kelapa yang bisa kita tanam, belum lagi kopi. Namun untuk melaksanakan gerakan penanaman kelapa dengan skala besar saat ini, kita masih terkendala pada ketersediaan benih,” ungkap Bapak Bambang.

Perlu dilakukan identifikasi terhadap benih kelapa yang ada di berbagai daerah, yang memiliki potensi besar dan kualitas yang baik.  Kemudian memetakan kekuatan benih yang tersedia secara nasional tersebut, dan sumber-sumber yang memang mungkin bisa dilepaskan dalam waktu singkat, maka segera direalisasikan pelepasan varietasnya. Lalu digunakan untuk memperkuat kesiapan benih untuk pengembangan ataupun peremajaan kelapa secara nasional.

Selanjutnya Bapak Bambang mengungkapkan rasa prihatinnya terhadap tanaman kelapa. Kondisi kelapa sangat membanggakan saat ini dengan meningkatnya permintaan kelapa, dan ditandai dengan tingginya nilai ekspor terhadap kelapa. Namun ternyata hal ini menjadi persoalan baru, karena industri dalam negeri menjadi kekurangan bahan baku. Tidak mungkin juga kita menghentikan atau menurunkan ekspor kelapa, karena butuh perjuangan yang tidak sedikit hingga akhirnya kita bisa mengekspor kelapa ke luar negeri.

Menurut Bapak Bambang, untuk ekspor kelapa tetap kita pelihara. Sedangkan persoalan kebutuhan kelapa untuk industri dalam negeri perlu ditanggulangi dengan cara meningkatkan produksi produktivitas kelapa sekaligus mutunya, serta meningkatkan sinergitas antar industri dan petani, supaya petani memiliki keyakinan dan kepercayaan untuk menjual dan memenuhi pasokan kelapa pada industri.

“Permintaan dari beberapa pihak yang menginginkan agar ekspor kelapa agak dikurangi, mungkin saja bisa dilakukan dengan cara penetapan biaya keluar, tapi dengan ketentuan sejumlah nilai keluar yang diperoleh dari hasil perdagangan kelapa ini sebaiknya digunakan untuk mengembalikan kejayaan kelapa Indonesia,” ujar Bapak Bambang.

Dalam kondisi pangsa pasar kelapa yang menguat ini, kita masih dihadapkan pada persoalan kemampuan dalam menghasilkan produk-produk kelapa yang bisa mensejahterakan petani. Para petani kita masih puas pada tataran menjual kelapa dalam bentuk butiran atau kopra. Sebenarnya banyak produk lain yang bisa dihasilkan dari kelapa, yang memiliki nilai jual lebih tinggi, misalnya sabun atau produk kecantikan, produk kesehatan, atau produk rumah tangga lainnya.

Para petani kelapa Indonesia tersebar di seluruh rumah tangga penduduk. Pembinaan dan penguatan kelembagaan petani yang belum terjalin dengan baik, menyebabkan keputusan bisnis untuk menghasilkan produk kelapa belum seragam secara nasional. Jika hal ini sudah terorganisir secara nasional, maka kelapa bisa memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar pada semua petani kelapa di Indonesia.    

Hingga saat ini Badan Penelitian Tanaman Palma atau Balit Palma terus melakukan berbagai upaya dalam mendukung penyediaan benih varietas unggul untuk peremajaan tanaman kelapa. Bapak Ismail mengatakan bahwa sampai saat ini sudah banyak varietas unggul yang dihasilkan. Tahun sebelumnya, Indonesia tercatat sebagai negara dengan nilai produksi kelapa yang paling tinggi. Namun pada tahun ini nilai produksi kelapa kita mulai menurun, dan disalip oleh negara penghasil kelapa lainnya.

Balit Palma mencatat bahwa rendahnya produksi kelapa disebabkan oleh berbagai faktor, diantaranya adalah minimnya pemeliharaan tanaman kelapa, penggunaan benih kelapa asalan sehingga dibutuhkan pendampingan bagi para petani, usia tanaman yang semakin tua sehingga perlu dilakukan peremajaan, rusaknya beberapa kebun kelapa yang disebabkan oleh hama penyakit dan bencana alam, serta rusaknya tanaman kelapa karena tata air yang kurang baik.

Bapak Ismail
“Saya rasa untuk program pengembangan kelapa ada tiga cara, yaitu peremajaan, rehabilitasi, dan perluasan. Ini membutuhkan ketersediaan benih yang cukup. Umumnya untuk penyediaan benih, kita menggunakan butiran kelapa yang dipanen dari pohon yang sudah ditentukan, dipilih, dan dilepaskan varietasnya. Kami rasa untuk pengembangan menuju 5 juta hektar ini tidak akan cukup, jika pengembangannya dilakukan dengan cara konvensional atau menggunakan butiran kelapa,” jelas Bapak Ismail.

Ada peluang lain untuk mempercepat pengembangan benih kelapa, yaitu dengan cara non konvensional, melalui pengembangan kultur jaringan, seperti yang telah dilakukan oleh negara Meksiko. Saat ini Balit Palma belum mencoba melakukan pengembangan dengan cara non konvensional ini. Namun diharapkan ke depan ada kerjasama antara pemerintah dan swasta untuk membangun sebuah laboratorium, yang dapat membuat kultur jaringan kelapa, sehingga bisa berhasil seperti kelapa sawit.

Ada 3 kategori varietas untuk mendapatkan benih kelapa unggul dalam rangka mendukung Program Pembenihan Tahun 2017-2018, yaitu Varietas Kelapa Unggul Nasional, Varietas Kelapa Unggul Lokal, dan Blok Penghasil Tinggi (BPT) atau Pohon Induk Tertinggi (PIT). Balit Palma sudah melepaskan benih Varietas Kelapa Unggul Nasional beberapa tahun yang lalu. Untuk Varietas Kelapa Unggul Lokal, perlu dilakukan pemanfaatan potensi yang ada di daerah-daerah, seperti di Indragiri Hilir, Gorontalo, dan beberapa daerah lainnya, sehingga nantinya bisa dilepas sebagai kelapa unggul lokal.

Untuk bisa memenuhi target benih kelapa tahun 2017-2018 yang masih kurang adalah dengan cara menambah pohon induk sumber benih bina dan benih sebar, yang menjadi tugas dari Ditjenbun dan Balit Palma untuk memilihkan pohon-pohonnya. Selain itu, kemudahan prosedur untuk mendapatkan sertifikat bagi petani kelapa juga perlu menjadi perhatian pemerintah, agar nantinya bisa digunakan sebagai bahan penelitian oleh Balit Palma.

Tahun ini, perayaan Hari Kelapa Dunia telah sukses dilaksanakan di Kabupaten Indragiri Hilir, tepatnya pada tanggal 9-11 September 2016 lalu. Indragiri Hilir merupakan daerah produksi kelapa terbesar di Indonesia, dengan luas lahan perkebunan kelapa lebih 420 ribu hektar, baik yang dimiliki oleh rakyat maupun swasta. Perayaan Fesitval Kelapa Internasional ini bertujuan untuk membangkitkan semangat para stakeholder kelapa, khususnya petani kelapa, serta dapat menggerakkan ekonomi kelapa yang beberapa tahun belakangan ini mulai menurun.

Seperti yang disampaikan oleh Bapak Wardan, bahwa Indragiri Hilir merupakan salah satu kabupaten yang ada di Provinsi Riau, yang memiliki potensi besar terhadap tanaman kelapa. Selain itu, letaknya juga sangat strategis yaitu berada diantara pengembang ekonomi Sijori (Singapura, Johor, dan Riau). Hampir 70% masyarakat di Indragiri bermata pencarian sebagai petani kelapa.

Bapak Wardan
“Sebelum bulan puasa kemarin, harga kelapa sangat baik, yaitu mencapai 3.400/ kg per butirnya. Belum pernah dalam sejarahnya, harga kelapa di Indragiri Hilir mencapai harga sedemikian. Ini tentu berdampak baik bagi perekonomian para petani kelapa. Harga ini mulai turun lagi menjelang lebaran, yaitu dikisaran 1.800/ kg per butirnya. Namun saat perayaan Festival Kelapa Internasional kemarin, harga kelapa kembali naik menjadi 2.200/ kg per butir. Mudah-mudahan saja harga kelapa ini terus semakin membaik,” papar Bapak Wardan.

Namun begitu, masih banyak persoalan yang dihadapi pemerintah daerah Indragiri Hilir terhadap tanaman kelapa ini, seperti sekitar 100 hektar kebun kelapa rakyat yang sudah tua dan rusak, serangan hama kumbang, brontispa, monyet, dan tupai, penerapan teknologi dan penggunaan bibit unggul yang masih kurang, diversifikasi produk turunan kelapa yang dihasilkan industri masih kurang banyak, serta pemanfaatan hasil sampingan kelapa, seperti air kelapa, sabut kelapa, dan tempurung kelapa yang masih belum optimal. Padahal banyak potensi yang dapat dihasilkan dari tanaman kelapa, namun tidak mampu dikembangkan oleh masyarakat.

Menurut Bapak Wardan diperlukan gerakan nasional penyelamatan kebun kelapa yang didukung oleh semua pemangku kepentingan, yang meliputi aspek budidaya, teknologi, pemberdayaan, pengelolaan, dan pemasarannya. “Diharapkan dengan penyelenggarakan Festival Kelapa kemarin dapat memberi dampak dan pengaruh yang baik, sehingga dapat menarik para investor untuk berinvestasi dalam rangka perbaikan kebun kelapa kita,” pungkas Bapak Wardan.    

Bupati Gorontalo yang juga hadir dalam diskusi ini, ikut memberikan pendapatnya. Menurut beliau jangan hanya Kementan dan Ditjenbun saja yang memiliki semangat untuk mengembangkan kelapa, namun juga pemerintah daerah. Ada sekitar 95 kabupaten di Indonesia yang mempunyai potensi terhadap tanaman kelapa. Dibutuhkan kolaborasi dari semua pihak agar kejayaan kelapa bisa berkembang dengan baik.

Bapak Nelson
“Maka baru-baru ini kami sudah berunding, ingin membuat sebuah wadah bagi pemerintah daerah penghasil kelapa, yang rencananya diberi nama KPK (Koalisi Pemerintah Daerah Penghasil Kelapa). Dari situlah kita akan meneruskan potensi ini, didorong oleh petani, industri, dan pemerintah pusat, juga perguruan tinggi. KPK ini rencananya akan bertemu di Gorontalo pada bulan Oktober nanti,” papar Bapak Nelson.

Dari sudut pandang industri, PT. Pulau Sambu mengatakan bahwa pihak industri merasa sudah seirama dengan apa yang telah dipaparkan oleh para bupati. Sudut pandang yang sebenarnya untuk memulihkan kembali kejayaan kelapa Indonesia adalah sudut pandang yang luas, yang melihat ekosistem dari kelapa Indonesia itu sendiri. Semua stakeholder diajak, dirangkul, dan diberikan peluang untuk bersuara, karena pada prakteknya kesinambungan dari apapun yang sudah dilakukan tidak akan terjadi, jika semua stakeholder tidak diperhatikan.

Pengalaman PT. Pulau Sambu yang telah berdiri selama 50 tahun telah memberikan pesan, bahwa menjalin hubungan yang dekat antara industri sampai pada para petani bukanlah sesuatu yang mudah, karena memang sulit untuk menyatukan sudut pandang antara keduanya. Untuk itulah, PT. Pulau Sambu menyambut baik keseriusan pemerintah maupun partisipan swasta, yang sangat besar semangatnya untuk mengambil tindakan yang konkrit terhadap pengembalian kejayaan kelapa Indonesia.      



Sumber Foto : Pribadi

1 komentar:

  1. Sedih banget ya kalo dengar Indonesia impor kelapa justru bukan dari negara penghasil kelapa hadeuhhhh ayo bangunnnnn bangkitkan kembali Kelapa Indonesia!

    BalasHapus