Kamis, 23 Maret 2017

Wajah Baru SiDU, Lebih Tebal, Putih, dan Cerah

Kebayang nggak sih, kalau di dunia ini nggak ada kertas, belum ada kertas gituh? Mungkin kita masih menulis di atas batu, kulit hewan atau di lembaran daun lontar ya XD Jadi penemuan kertas ini penting banget nih buat kita. Kalau nggak, mana mungkin si cintah bisa mengirimkan surat wangi berwarna pink-nya padaku, duluuu *eh :)))

Trus banyak momen-momen penting juga yang telah ditorehkan dalam selembar kertas. Sebut saja teks Proklamasi bangsa kita yang ditulis oleh Bung Karno, Beethoven yang menuliskan not demi not lagu, hingga menghasilkan musik klasik yang melegenda, atau penemuan-penemuan penting lainnya yang mencatatkan rumus-rumusnya pada secarik kertas. Trus, surat nikah kamu ditulis di atas kertas juga kaan? Bukan pada setangkai bunga mawar XD :)))

Walau saat ini sudah jamannya serba digital, namun kertas tetap menjadi kebutuhan dan barang yang penting lho! Aku aja masih suka nyatet-nyatet apa saja di kertas atau note book, masih suka baca novel (fisik), ngeprint pake kertas (ya iyalah, masa pake plastik xD), dan anak-anak sekolah pada belajar dan nyatet di kertas kan. Coba deh diingat-ingat lagi, apalagi yang biasanya kita kerjakan dengan menggunakan kertas.

Ngomong-ngomong soal kertas, kamu tau nggak sih, kapan ditemukannya kertas? Aku yang penasaran, sempat browsing di internet, hehe. Ternyata kertas tuh udah lama banget ditemukan, tepatnya tahun 101 Masehi di China. Setelah itu baru deh nyebar ke negara-negara lainnya, termasuk Indonesia. Bayangkan sudah berapa banyak peristiwa dan momen-momen penting yang terukir di atas kertas.

Kenal dengan produk SiDU nggak? Dulu waktu masih duduk di bangku SD, aku sudah menggunakan buku tulis merek SiDU. Orangtuaku sih yang menyediakan, hehe. Aku suka-suka aja, soalnya kertasnya memang lebih tebal, dan covernya bagus-bagus :D

Ingat dulu, jadi ingat juga kalau dulu aku termasuk anak yang rajin menulis catatan, sehingga beberapa teman sering meminjam catatanku buat difotokopi :D Aku juga suka nyobekin bagian tengah buku tulis, lalu kertasnya aku jadiin pesawat-pesawatan atau kapal-kapalan XD Kalau sekarang kebanyakan udah pakai kertas origami ya. Ah, masa kecil yang indah, tertoreh di atas kertas :)

Kertas-kertas ini macam-macam sih jenisnya. Seperti untuk novel, aku lebih suka kertasnya yang ringan sehingga kalau mau dibawa-bawa nggak berat. Untuk majalah dan ngeprint aku lebih suka kertasnya yang agak tebal, putih bersih, dan cerah gitu, sehingga enak buat dibaca dan dilihat.

Nah, SiDU sangat mengerti akan kebutuhan dan keinginan konsumennya, sehingga melakukan berbagai inovasi untuk produk kertasnya. Seperti pada hari Selasa, 21 Maret 2017 kemarin, SiDU meluncurkan sebuah produk baru untuk kertas cetak dan fotokopinya. Inovasi untuk copy paper yang lebih tebal, namun tidak menambah berat kertasnya, lebih putih, dan lebih cerah.

Acara yang mengangkat tema "Wajah Baru SiDU "Progres #diAtasKertas" ini diselenggarakan di Gedung Arsip Nasional RI, dan menghadirkan tiga orang narasumber, yaitu Bapak Sovan K. Ganguly, sebagai Asia Pulp and Paper Consumer Business Unit Head, Bapak Martin Jimi, sebagai SiDU Consumer Domestic Business Head, dan Mba Okky Madasari, seorang Penulis dan Produser Film.


SiDU ternyata sudah 40 tahun hadir di Indonesia. Pantesan waktu aku kecil udah ada ya, udah lama banget ternyata :D Yang aku tau, produk-produk kertas SiDU memiliki kualitas yang bagus sih. Makanya nggak heran kalau saat ini SiDU memimpin pasar dengan menguasai lebih dari 55% market share.

Bpk Sovan
Bapak Sovan menuturkan bahwa kertas SiDU hadir melalui proses R&D dan didukung dengan teknologi terbaru, dalam proses yang bertanggung jawab. Proses ini berkelanjutan, dengan terus melakukan inovasi di bidang penelitian serta teknologi. Namun begitu, SiDU tetap menjaga kelestarian alam, melalui proses produksi yang ramah lingkungan.

“Produk SiDU dihasilkan dari serat yang ditanam di perkebunan dengan bertanggungjawab, yang aman untuk lingkungan. Dengan komitmen 100% zero deforestation,” ungkap Bapak Sovan.

Seiring dengan pertumbuhan ekonomi di Indonesia, SiDU tentu akan terus memperluas distribusi produknya sehingga dapat diakses oleh seluruh masyarakat Indonesia, baik yang ada dipelosok-pelosok desa, maupun yang di daerah perbatasan. Dengan begitu semua orang dapat secara utuh menjadi bagian dari progres kehidupannya.

SiDU akan terus berikan kualitas terbaiknya, terus mendukung, dan menyaksikan progres hidup masyarakat Indonesia, dan juga berharap dapat terus berkontribusi terhadap ekonomi Indonesia, sehingga industri kertas dapat terus bertumbuh secara konsisten, tanpa menganggu kelestarian lingkungan tentunya :)

Menurut Bapak Sovan lagi, industri pulp dan kertas merupakan kontributor devisa terbesar ke-7 dari sektor non migas di Indonesia. Pada data tahun 2016, industri pulp dan kertas telah menyumbang 3,79 miliar dollar AS pada pendapatan nasional. Sebanyak 260 ribu tenaga kerja Indonesia menggantungkan hidupnya dengan bekerja pada industri kertas.

“Kertas ini dimanfaatkan oleh berbagai konsumen, seperti untuk korporasi, pendidikan, bisnis, serta untuk penggunaan pribadi,” jelas Bapak Martin.

Walaupun aku menulis di blog, mengetik di komputer, tapi bukan berarti aku nggak memerlukan kertas ya. Aku masih butuh kertas buat ngeprint, menyematkan note di papan dan kulkas, menulis beberapa catatan penting di notebook, dan banyak lagi yang lainnya. Dan Mba Okky pun ternyata sependapat denganku.


Mba Okky yang telah menghasilkan novel-novel terkenal, seperti Buku 86, Maryam, Entrok dan Pasung, mengatakan bahwa kertas tidak hanya memiliki peran secara fungsional, tapi juga merupakan sebuah media untuk mengekspresikan perasaan dan pikiran. Perpaduan antara kertas dan tinta sangat berperan penting sebagai media untuk menyampaikan gagasan.

Mba Okky
“Kertas menjadi saksi bagaimana kita berjuang untuk terus berkarya. Saya nggak dapat bayangkan hidup tanpa kertas. Walaupun ada isu bahwa keberadaan kertas akan tergeser oleh teknologi, saya yakin itu tidak akan pernah terjadi,” tukas Mba Okky.

Aku juga setuju dengan pendapat Mba Okky. Secanggih-canggihnya kemajuan teknologi, kertas tetap akan dibutuhkan. Mereka berdua akan berjalan beriringan, saling mengisi. Kertas membutuhkan teknologi dalam proses pembuatannya. Teknologi pun butuh kertas sebagai mitranya untuk bisa terus maju dan berkembang.

Usai berbincang-bincang dengan narasumber, acara diisi dengan mendengarkan Mba Okky yang membacakan sebuah puisi tentang kertas. Setelah itu barulah produk terbaru kertas cetak dan fotokopi SiDU resmi diluncurkan.

Mba Okky saat membacakan puisi
Produk Copy Paper SiDU terbaru resmi di-launching
Mulailah hidup dengan kertas yang kosong, lalu torehlah warna-warni di atasnya, sehingga akan menjadi hal yang baru dan indah. Selain menyangkut sejarah, kertas juga dapat menyentuh kehidupan pribadi kita. Kertas dapat mencatat masa lalu dan masa depan. Apapun yang tercatat di atas kertas adalah sesuatu yang nggak bisa bohong. Kertas juga dapat merepresentasikan apa yang terjadi dalam hidup kita, menjadi media progres yang dijalani sehari-hari.


Foto : Pribadi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar