Jumat, 31 Mei 2013

Film Laura & Marsha, Ujian Persahabatan Dalam Sebuah Perjalanan



"Loe tuh! dari awal cuma punya satu tujuan kan ke Eropaa!
Loe..sok-sok buat aturan-aturan...
Loe tuh..perempuan aneh dan bego! .. loe tau itu gak!!!"

______



Salah satu dialog diatas merupakan klimaks cerita dalam film Laura & Marsha. Dialog pertengkaran yang terjadi diantara dua sahabat dalam perjalanan mereka berkeliling Eropa. Laura yang diperankan secara apik oleh artis Pricia Nasution, merupakan seorang single parent dan bekerja pada sebuah travel agent, mempunyai sifat yang teratur, serius, sistematis dan sulit percaya pada orang lain selain dirinya sendiri. Sedangkan sosok Marsha dimainkan oleh artis Adinia Wirasti dan berperan sebagai seorang penulis buku travelling, mempunyai sifat yang bertolak belakang dengan Laura, Marsha adalah gadis yang selalu ceria dan spontan, suka kebebasan, percaya pada mitos dan keberuntungan.

Laura
Marsha

_______

Laura dan Marsha sudah bersahabat sejak duduk dibangku SMA. Laura yang kemudian menikah dan dianugrahi seorang putri kecil, tiba-tiba ditinggalkan begitu saja oleh sang suami tanpa alasan atau pesan apapun. Sejak itu, tiap tahunnya ia hanya menerima sebuah kartu pos dari sang suami, Ryan. Kartu yang beralamatkan sebuah kota di Eropa itu hanya berisi ucapan selamat ulang tahun untuk putri mereka, tidak ada kata-kata atau pesan lainnya tentang kepergiannya. Dan sebagai single parent, Laura harus berusaha menghidupi anaknya dengan bekerja di sebuah travelling agent.

Sedangkan Marsha yang masih menikmati kesendiriannya, sibuk menulis buku-buku tentang perjalanan yang pernah dilaluinya. Karena sering travelling, Marsha sering memesan tiket untuk perjalanannya pada agent travelling tempat Laura bekerja. Tentu saja hal ini membuat mereka semakin sering bertemu.

Pada suatu hari, Marsha menyampaikan keinginannya yang dulu pernah diungkapkannya pada Laura, yaitu imipannya untuk bisa keliling Eropa. Ia merasa inilah saat yang tepat untuk merealisasikan impiannya itu dan ia mengajak Laura untuk ikut bersamanya berkeliling Eropa untuk mengenang 2 tahun kepergian ibunya.

Ajakan ini ditolak dengan tegas oleh Laura. Dengan alasan bahwa putrinya masih butuh perhatian dan ia tidak bisa meninggalkannya begitu saja dengan pergi jalan-jalan ke Eropa. Menurutnya jalan-jalan ke Eropa bukanlah sesuatu yang penting dan hanya buang-buang uang saja. Ia punya budget, uang yang selama ini ditabungnya, tetapi uang itu untuk rencananya yang lain, bukan untuk berjalan-jalan keliling Eropa. Marsha pun diam, tak memaksa.

Namun semua berubah ketika suatu hari sepulang dari kerja Laura mengalami kecelakaan, ia mengalami koma selama beberapa hari. Beruntung ia selamat dari kecelakaan itu dan bisa sembuh dari komanya. Tapi peristiwa yang dialami Laura membuat Marsha semakin memperkuat keinginannya untuk bisa keliling Eropa. 

"Hidup tuh singkat banget, kematian bisa datang kapan aja dan gue gak mau mati sebelum mewujudkan impian gue!" ungkap Marsha.

Mendengar itu Laura pun tersentuh, ia meloloskan keinginan Marsha dan menemaninya untuk berkeliling Eropa, walaupun tidak dengan sepenuh hatinya.

Perjalanan pun di mulai. Laura terlihat tidak terlalu menikmati perjalanan itu. Dia  mulai menetapkan berbagai aturan yang harus mereka berdua patuhi. Namun aturan-aturan tersebut seringkali dilanggar oleh Marsha. Sehingga mereka pun sering bertengkar. Namun selama diperjalanan dimana setiap mereka mengalami kesulitan, Marsha dengan berbagai macam cara dan tanpa banyak syarat selalu membantu mereka keluar dari kesulitan. 

Laura dan Marsha yang selalu bertengkar

Di tengah perjalanan, tiba-tiba Marsha tanpa persetujuan Laura mengajak seorang pria asing bernama Finn untuk ikut dalam mobil sewaan mereka. Tentu saja perbuatan Marsha ini membuat Laura uring-uringan. Namun dengan entengnya Marsha berkilah bahwa Finn punya tujuan yang sama dengan mereka dan dia bisa  menjadi pemandu jalan buat mereka. Laura pun terpaksa menerima walau dengan perasaan dongkol.

Sebelum mereka sampai di kota yang mereka tuju, tiba-tiba Laura mengusir Finn karena menganggap Finn sudah menyesatkan jalan mereka. Finn yang dimintai tolong untuk menyetir mobil disaat mereka berdua beristirahat, tiba-tiba merubah arah dan sedikit melenceng dari jalur yang sudah ditetapkan oleh Laura. Finn beralasan mau mampir sebentar kerumah temannya. Walau sudah dibujuk berkali-kali oleh Marsha, namun Laura dengan tegas tidak memperbolehkan Finn untuk ikut dalam mobil sewaan mereka. 

Dengan kepercayaan diri yang tinggi Laura menyetir mobil sewaan dengan berpandu pada peta yang mereka miliki. Namun karena memang tidak mengenal medan, mobil mereka tiba-tiba memasuki hutan yang sepi, mereka tersesat!

Saat itulah tiba-tiba dari balik pepohonan muncul 3 pria asing dengan wajah yang tidak menyenangkan. Mereka mulai mengganggu Laura dan Marsha yang berada dalam mobil. Dengan ketakutan Marsha menyuruh Laura untuk mengambil tas dan kabur dari mobil. Pria jahat tersebut ternyata mengejar mereka. Untunglah mereka selamat dari kejaran penjahat tersebut dan menemukan sebuah pondok yang ternyata merupakan sebuah gudang minuman. Malam itu mereka menginap disana. Namun pagi-pagi sekali mereka dibangunkan oleh guyuran air yang disiram si pemilik gudang yang marah kepada mereka. Mereka pun lari terbirit-birit. 

Setelah menyusuri hutan akhirnya mereka menemukan jalan raya. Dengan nekadnya Marsha berdiri ditengah jalan untuk memberhentikan mobil yang lewat untuk bisa mereka tumpangi. Akhirnya mereka menumpang pada sebuah mobil caravan. Namun Marsha menangkap ketidaknyamanan Laura ketika berada dalam caravan. Dan ia pun memutuskan untuk turun dan melanjutkan sisa perjalanan dengan berjalan kaki. Sesampai di kota terdekat hari sudah beranjak malam. Perut mereka pun sudah keroncongan. Mereka tidak memiliki uang untuk membeli makanan karena dompet, HP dan pasport mereka yang tercecer ketika mereka dikejar-kejar oleh penjahat di dalam hutan. 

Seperti biasa, Marsha dengan segala akalnya, selalu berusaha memecahkan kesulitan yang sedang mereka hadapi. Ia nekad menipu atau tepatnya mencuri makanan pada sebuah toko roti. Dan aksi kejar-kejaran pun terjadi kembali. Mereka dikejar oleh si tukang roti dan  beruntung mereka selamat dari kejaran dan bersembunyi pada sebuah bangunan kosong.

Di bangunan inilah Laura mulai merasa capek dan jenuh dengan segala tingkah polah Marsha. Dia tidak mau menerima roti hasil curian Marsha, hingga ia pun tertidur dengan perut kosong. Ketika pagi menjelang, perselisihan kembali terjadi. Laura yang sudah stres karena kehilangan uang dan pasport merasa Marsha selalu membawa masalah bagi dirinya. Dia mulai menyalahkan Marsha. Perang mulut pun terjadi. Pembicaraan sampai merembet kemana-mana. Laura mulai menyinggung-nyinggung mengenai Marsha yang tidak sepenuhnya terbuka pada dirinya, bahwasanya Marsha yang tidak bisa punya anak, yang ia ketahui dari mulut ibunya Marsha. Bahwa ibunya Marsha yang meninggal gara-gara Marsha. Semua kata-kata Laura itu membuat Marsha berang. Namun yang lebih membuat Marsha marah besar adalah ketika ia menemukan salah satu kartu pos kiriman Ryan yang terjatuh dari dalam tas Laura, hingga Marsha akhirnya mengetahui, ternyata Laura punya maksud dan tujuan khusus sehingga mau ikut ke Eropa bersamanya. 

Akibat pertengkaran hebat itu akhirnya mereka memutuskan berpisah. Laura pun bekerja pada sebuah restauran untuk bisa bertahan hidup begitu pula dengan Marsha.

Tapi akhirnya mereka bersatu lagi ketika mereka harus lari dari kejaran pihak imigrasi. Laura pun minta maaf atas semua ucapan dan sikapnya selama ini. Ia pun menemani Marsha mewujudkan keinginannya untuk merayakan 2 tahun kepergian ibunya.


Verona, Marsha merayakan 2 tahun kepergian ibunya

Marsha yang kasihan pada sahabatnya pun akhirnya juga mau menemani Laura untuk mencari alamat Ryan.  Namun ketika mereka sudah menemukan alamat Ryan, Laura jadi ragu untuk menemuinya. Ia takut jika ternyata semua tidak seperti yang diharapkannya. Marsha pun memberi Laura semangat.

Namun betapa terkejutnya Laura ketika mengetahui bahwa yang tinggal disana bukanlah Ryan tetapi Finn, pria asing yang pernah menumpang di mobil sewaan mereka. Laura yang kaget dan syok langsung marah-marah dan pergi meninggalkan tempat itu. Namun setelah dibujuk secara baik-baik oleh Marsha, akhirnya Laura mau mendengar penjelasan dari Finn.

Finn pun bercerita, ia mengenal Ryan ketika mereka sama-sama di rawat di sebuah Rumah Sakit. Ryan yang menderita kanker otak dan tidak bisa disembuhkan lagi banyak bercerita mengenai Laura istrinya dan Luna anaknya. Ia pergi berobat ke Eropa tanpa sepengetahuan istri dan anaknya. Dan ketika ia merasa umurnya tak panjang lagi, Ryan pun minta pertolongan Finn untuk bisa mengirimkan kartu pos yang sudah ditulisnya sendiri dan diberi tanggal kapan Finn harus mengirimkannya pada Laura.

Cerita Finn ini membuat Laura syok, dia menjerit histeris dan mengatakan tidak mungkin Ryan meninggal dan Finn pasti telah berbohong padanya. Namun setelah melihat sendiri semua kartu yang ditulis tangan oleh Ryan dan kado-kado yang musti dikirim padanya dan ditambah lagi dengan sebuah kaset berisi rekaman suara Ryan yang mengatakan kenapa ia melakukan semua ini. Ia tidak ingin orang yang dicintainya sedih ketika mengetahui bahwa umurnya tidak akan panjang lagi. Bahwa ia sangat menyayangi Laura dan Luna anak mereka. Laura pun tergugu, sedih dan merasa terpuruk.

Marsha pun langsung merangkul Laura. Menguatkan hati untuk sahabatnya. Memberi semangat bahwa Laura masih punya Luna dan dia yang akan selalu menyanyanginya.

___________

Review Film Laura & Marsha di atas merupakan kisah petualangan dua orang sahabat dan ujian yang harus mereka lewati selama perjalanan. Ujian yang akhirnya membuat persahabatan mereka bertambah kuat dan membuat mereka tahu arti persahabatan yang sesungguhnya. Sahabat sejati adalah sahabat yang selalu bisa menerima kekurangan sahabatnya, yang selalu ada di kala senang ataupun susah. Dalam ujian ini mereka akhirnya bisa menemukan arti cinta yang sebenarnya, makna hidup yang sesungguhnya dan makna dari perjalanan yang telah mereka lalui.

___________

Film yang diproduksi oleh Inno Maleo Films dan disutradarai oleh sutradara muda Dinna Jasanti ini mengambil lokasi di Indonesia, Amsterdam (Belanda), Bruhl (Jerman), Innsbruck (Austria) dan Verona dan Venice (Italia).

Bruhl, Jerman

Verona, Italia

Amsterdam, Belanda

Innsbruck, Austria

Untuk pengisi soundtrack, Film Laura & Marsha menggandeng seorang musisi berkebangsaan Indonesia yang sudah 8 tahun menetap di jerman yaitu Antonius Mashdiarto Wiryanto atau lebih akrab dipanggil Diar. Diar membuat beberapa lagu untuk film ini dan salah satu lagunya berjudul Summertime.





Bagi yang penasaran bagaimana serunya petualangan dua sahabat ini, bisa langsung nonton Film Laura & Marsha di bioskop- bioskop yang akan di release tanggal 30 Mei 2013. Atau ingin lihat trailernya dulu?






Dokumentasi : Foto pribadi dan dari www.lauramarsha.com

4 komentar:

  1. Uni Dewi... gileeee riviewnya kereeen...
    kayanya ini sudah belajar dari pengalaman yang sebelum2nya ya... :)

    Good Luck ya Un :)

    BalasHapus
  2. Awan : Makasiiihh Wan! Ini serius pujian kaaan?? bukan buat nyenangin hati nih!
    Good luck jg utk mu ya Wan! :)

    BalasHapus
  3. Cari Tiket Pesawat dan tiket kapal Online Super Cepat dan murah??
    http://selltiket.com
    Booking di SELLTIKET.COM aja!!!
    CEPAT,….TEPAT,….DAN HARGA TERJANGKAU!!!

    Ingin usaha menjadi agen tiket pesawat??
    Yang memiliki potensi penghasilan tanpa batas.
    Bergabung segera di http://agenselltiket.com

    INFO LEBIH LANJUT HUBUNGI:
    No handphone : 085372801819

    BalasHapus